Guruku... Alangkah besar pengabdianmu. Tanpa tanda jasa kau tetap setia mendidikku. Agar aku berguna bagi nusa dan bangsa.

Selasa, 22 April 2008

PANTUN

Dua paya, satu perigi
Seekor bujuk anak ruan
Tuan di sana, saya di sini
Bagai pungguk rindukan bulan

Kera putih makan lada
Kulit salak banyak duri
Senang hati dalam dada
Liat mama sedang menari

Alun membawa biduku perlahan
Dalam kesunyian malam waktu
Tidak berpawang, tidak berkawan
Entah ke mana aku tidak tahu

Dari mana padi dibawa
Sukarlah dia tumbukan alu
Di mana hati tak suka
Melihat dia senyum selalu

Datanglah benih dari Palembang
Pecah gelegar rusaklah perahu
Saya mendapat bunga yang kembang
Kalau malu baru berbau

Batang keladi bunga melaka
Bunga kembang di dalam peti
Siapa yang melihat menjadi suka
Menjadi bimbang di dalam hati

Beli talas tanaman simpur
Payung Jepang di toko nyonya
Bukan malas saya menegur
Sebab takut pada yang punya

Tanam lada di pohon temu
Ambil benang di atas peti
Kalau sudah kita bertemu
Rasanya senang dalam hati

Pergi ke Bandung membeli kemiri
Kemiri terletak dalam peti
Tujuh gunung saya mencari
Sebelum dapat belum berhenti

Keliki ambil petanak
Air mendidih kandang nasi
Air jernih ikannya jinak
Bolehkah diri mandi di sini

Jika ada sumur di ladang
Bolehkah kita menumpang mandi
Jika ada umur yang panjang
Bolehkah kita berjumpa lagi

Jalan-jalan ke kota Jakarta
Jangan lupa beli roti
Apabila mau bercinta
Siap-siap saja patah hati

Jalan-jalan ke taman
Tidak lupa membawa pepaya
Kalau habis makan
Buanglah sampah pada tempatnya!

Kalau ada kembang baru
Bunga kenanga dikupas jangan
Kalau ada sahabat baru
Sahabat lama dibuang jangan

Sudah tau jalannya licin
Masih saja main sepeda
Sudah tau orangnya miskin
Masih saja kau hina

Di sini gunung, di sana gunung
Tengah-tengah pohon melati
Di sini bingung, di sana bingung
Karena memikirkan si jantung hati


Kalau puan-puan cerana
Ambil gelas dalam peti
Kalau tuan bijaksana
Binatang apa tanduk di kaki?

Di bawa itik pulang petang
Dapat di rumput bilang-bilang
Melihat ibu sudah pulang
Hati cemas jadi hilang


Anak ayam turun sepuluh
Mati satu tinggal sembilan
Tuntutlah ilmu sungguh-sungguh
Agar tidak ketinggalan

Pisang emas bawa berlayar
Simpan padi di bawah peti
Hutang emas dapat dibayar
Hutang budi dibawa mati

Kalau ku tahu manisnya susu
Tidak ku campur dengan gula
Kalau ku tahu cintamu palsu
Tidak ku mulai dari semula

Buat apa menanam pulut
Kalau tidak menanam padi
Buat apa cinta di mulut
Kalau tidak sampai di hati

Untuk apa kamu meminta
Kalau hanya membeli kain
Untuk apa kamu bilang cinta
Kalau hanya untuk main-main

Naik sepeda jangan ngebut
Kalau ngebut patah kakinya
Bermain cinta jangan takut
Kalau takut kapan jadinya



Tinggi benar pohon itu
Nak ku panjat takut patah
Cantik benar cewek itu
Nak ku pinang masih sekolah


Ku coba menanam tomat
Siapa tahu buahnya lebat
Ku coba-coba mengirim surat
Siapa tahu menjadi teman dekat

Indonesia negara beta
Negara India elok rupawan
Ayo kawan gemar membaca
Tuk meluaskan wawasan

Dari mana jalannya lintah
Dari sawah turun ke kali
Dari mana datangnya cinta
Dari mata turun ke hati


Kalau kita mendaki gunung
Tidak lupa membawa pepaya
Biar kita sekolah di kampung
Tapi SMA PGRI tetaplah jaya

Kalau adik membeli buku
Beli saja harga seribu
Kalau adik cinta padaku
Bilang saja I Love You!

Bukan hari sembarang hari
Hari ini hari jum’at
Bukan nabi sembarang nabi
Nabi ini nabi Muhammad


Kalau tuan mandi ke hulu
Ambilkan saya bunga kemboja!
Kalau tuan mati dahulu
Nantikan saya di pintu surga!

Asam kandis asam gelugur
Kedua asam beriang-riang
Menangis mayat di dalam kubur
Teringkat badan tidak sembahyang

Jika kamu pergi ke pati
Belikan saya sekilo duku
Jika kamu berbaik hati
Bantulah saya bawakan buku


Kupu-kupu warnanya biru
Hinggap di bunga mengisap madu
I don’t forget you
Because I Love You

Hujan gerimis di siang hari
Anak kodok riang menari
Kalau sudah cocok di hati
Mari kita mengikat hati

Banyak buah semangka
Di bawa dalam sampan
Banyak anak jejaka
Cuma abang yang tampan

Rumah atapnya tinggi
Terbuat dari bambu
Cuma satu ku pilih
Dan yang selalu ku rindu



Air mengalir berbuih jernih
Sang bayu manja membelai ilalang
Hatiku sudah tidak sedih
Kekasih dan saudara semua pulang


Jangan suka main keladi
Keladi itu banyak getahnya
Jangan suka main judi
Judi itu banyak dosanya

Ke mana kancil akan dikejar
Ke dalam pasar cobalah cari
Ketika kecil rajin belajar
Sesudah besar senanglah hati

Pulau pandan jauh di tengah
Di bukit pulau di angsa dua
Hancur badan dikandung tanah
Budi baik dikenang juga

Angin teluk menyisir pantai
Hanyut sampai di bawah titi
Biarlah buruk kain dipakai
Asal pandai mengambil hati

Sungguh banyak sumur yang ada
Hanya satu sumur yang dekat
Sungguh banyak lelaki yang ada
Hanya abang yang melekat di hati

Dari mana jalannya lintah
Dari sawah turun ke kali
Dari mana datangnya perintah
Dari Allah turun ke nabi



Kalau abang pandai menyurat
Suratkan saya kertas putih
Kalau abang pandai ngobat
Obatkan saya yang sakit hati


Ribu-ribu sepanjang jalan
Mari dipetik si jari manis
Beribu-ribu orang di jalan
Hanya abang dipandang manis

Jangan suka makan tebu
Tebu itu banyak getahnya
Jangan suka melawan ibu
Melawan ibu banyak dosanya

Buai-buai dalam buaian
Buaian dari rotan saga
Panjang benar janggut tuan
Mari dibuat tali timba

Berburu ke padang datar
Mendapat rusa belang kaki
Berguru kepalang ajar
Bagai bunga kembang tak jadi

Cina gemuk membuka kedai
Menjual ember dengan pasu
Bertepuk adikku pandai
Boleh diupah air susu


Anak gajah mandi di sumur
Ambil galah dalam perahu
Orang muda jangan takabur
Cobaan Allah siapa tahu

Manis-manis buah rambutan
Tapi sayang tinggal di hutan
Manis-manis cowok sekarang
Tapi sayang mata keranjang

Ambil sari tinggal pati
Buah diperam jadi busuk
Tirulah terus ilmu padi
Makin berisi makin menunduk


Pergi ke pasar membeli ketupat
Singgah sebentar membeli buah
Jika kamu mau bertobat
Bertobatlah di jalan Allah

Jalan-jalan ke Jakarta
Tidak lupa membeli roti
Kalau kamu mau bercinta
Harus siap patah hati

Makan gulai di atas batu
Kerasnya batu tak terasakan
Jika boleh aku bertemu
Datang bertemu untuk kenalan


Dari mana hendak ke mana
Dari Jepang ke bandar cina
Kalau boleh kami bertanya
Bunga yang kembang siapa yang punya

Anak burung di ranting kayu
Indah bulunya berwarna biru
Merantau dulu mencari ilmu
Soal pacaran nanti dulu

Baju putih berkancing lima
Batang padi terbelah dua
Biar mati dipukul mama
Asal jadi kita berdua

Bukan kacang sembarang kacang
Kacang melilit di atas pagar
Bukan datang sembarang datang
Kami datang untuk melamar

Kelap-kelip di kapal layar
Pasang bendera setengah tiang
Jauh-jauh pacarku datang
Perut lapar terasa kenyang


Jika kenyang karena makan
Janganlah lupa akan minumnya
Jika datang untuk berteman
Akan ku terima dengan senangnya


Dari Jakarta ke Surabaya
Jangan lupa beli pepaya
Engkau gembira aku gembira
Jadilah kita tambah saudara

Buah pepaya enak rasanya
Itu sebabnya banyak yang suka
Tambah saudara tambahlah kaya
Itulah kaya yang sesungguhnya

Pergi ke pasar membeli kepiting
Tidak lupa membeli ikan
Jika sahabat sangatlah penting
Kan ku ingat sepanjang zaman

Hijau-hijau buah rambutan
Masak sedikit enak dimakan
Emang enak jadi perempuan
Cantik sedikit jadi rebutan

Buat apa menanam bunga
Kalau tidak punya jambang
Buat apa punya agama
Kalau tidak pernah sembahyang

Jalan-jalan ke tanah mekah
Bawa uang lima rupaih
Kalau Ade ingin menikah
Tunggu abang tamat sekolah



Buat apa membawa tongkat
Kalau tidak membawa kayu
Buat apa naik pangkat
Kalau tidak sekolah dulu


Sungguh banyak bunga di taman
Hanya satu dimakan sapi
Sungguh banyak ku punya teman
Hanya satu teman sejati

Kalau kamu pergi ke Mekah
Jangan lupa membawa bunga
Kalau kamu tinggi sekolah
Jangan lupa kepada saya

Aku punya buku
Bukuku warnanya biru
Aku punya rindu
Rinduku hanya untuk mu

Hujan rintik di Jawa Barat
Hujan deras di Borobudur
Kalau rindu kirim surat
Jangan nangis di tempat tidur

Hati-hati memilih kacang
Kacang itu kacang panjang
Hati-hati memilih bujang
Bujang itu mata keranjang


Naik papan turun papan
Mari masuk dalam perahu
Suruh makan kami makan
Suruh ngaji kami tidak tahu

Kalau abang pergi ke Medan
Bawalah adik sepasang baju
Kalau abang punya cewek cantik
Jangan lupa adik di kampung

Terang bulan terang di gunung
Api memancar ke dalam kapal
Tiap malam pikiran bingung
Air mata membasahi bantal

Bukan saya takut mandi
Saya takut ada buaya
Bukan saya tak cinta lagi
Saya sudah ada yang punya

Limau manis dimakan manis
Manis sekali rasa isinya
Dilihat manis dipandang manis
Manis sekali hati budinya

Gemuruh tabuh bukan kepalang
Diasah lembing berkilat-kilat
Gemetar tubuh harimau belang
Nampak kambing pandai bersilat



Jangan menangis di atas kaca
Menangislah di atas meja
Jangan menangis karena cinta
Menangislah karena dosa

Jalan-jalan ke kota Paris
Melihat orang berbaris-baris
Banyak-banyak cewek yang cantik
Hanya kamu yang menarik hati

Jangan suka makan mentimun
Mentimun itu banyak getahnya
Jangan suka duduk melamun
Melamun itu susah obatnya

Burung pipit si burung balam
Dalam sangkar keduanya
Pandai nian abang melempar
Tulang putus daging ku luka

Hati-hati meniti kawat
Jangan sampai jatuh ke jurang
Hati-hati membaca surat
Jangan sampai ketahuan orang


Berkejar-kejar memetik delima
Delima disimpan di dalam hati
Dari sekarang belajarlah ilmu agama
Untuk bekal di akhirat nanti


Yang kurik itu kundi
Yang merah itu saga
Yang baik itu budi
Yang indah itu bahasa

Cuaca gelap semakin redup
Asalkan boleh kembali terang
Budi bahasa amalan hidup
Barulah kekal dihormati orang

Jalan-jalan ke pasar barang
Beli sepatu, baju, dan kain
Rajin bekerja membanting tulang
Janganlah dulu utamakan main

Bunga cempaka ditibang rebah
Kakinya sudah bercendawan
Bunga kita pergi ke sawah
Adik di rumah tak berkawan

Anak kalkun dibawa berlayar
Ke ujung laut berwarna biru
Anak rajin tekun belajar
Disanjung teman disayang ibu


Karena apa binasa pandan
Kalau tidak karena paku
Karena apa binasa badan
Kalau bukan karena tingkah laku


Bunga selasih berwarna biru
Gugur daunnya dimakan ulat
Terima kasih pengajaran guru
Dari dunia sampai akhirat

Sudah lama tidak ke ladang
Batang padi dibalut kangkung
Sudah lama tidak memandang
Tangkai hati dibalut jantung

Kalau ada pepaya yang muda
Jangan diambil pepaya yang tua
Kalau kamu pergi ke kota
Jangan lupa saya di desa

Sungguh banyak batang melintang
Hanya satu yang aku titi
Sungguh banyak orang ku pandang
Hanya satu yang menarik hati

Kalau kamu pergi ke taman
Jangan lupa membawa tekur
Kalau kamu sudah berteman
Jangan lupa tegur menegur

Bu…Bu… kaki ku sakit
Terjatuh dalam jurang
Bu…Bu… hati ku sakit
Pacarku diambil orang



Jalan-jalan ke kota Paris
Lihat gedung berbaris-baris
Biar mati diujung keris
Asal dapat si hitam manis


Gula jawa warna merah
Kue donat kekurangan ragi
Pantas mengantuk di sekolah
Menonton televisi sampai pagi

Anak tikus bergerak-gerak
Berusaha lepas dari jerat
Rindu aku pada kakak
Tertuangkan lewat surat

Ayo ikut mendayung perahu
Mendayung sampai tujuan
Ayo kita belajar mencari tahu
Menuntut ilmu demi kemajuan

Berkelana ke mancanegara
Naik pesawat ke langit biru
Beta mendapat peringkat pertama
Mendapat hadiah tas baru

Jalan-jalan menenteng bungkusan
Bungkusan berisi makanan aneka rasa
Kawan semua mari mengandeng tangan
Bersatu membangun negara dan bangsa


Mari bernyanyi membuat lingkaran
Sambil menari dengan hati gembira
Kita memang berbeda-beda, kawan
Namun kita tetap satu Indonesia

Anak tikus mati berenang
Berenang pula di dalam perahu
Cinta putus tak usah dikenang
Sama-sama cari yang baru

Hati-hati meniti kawat
Jangan jatuh air mata
Hati-hati membaca surat
Jangan jatuh air mata

Jangan dulu minum fanta
Sebelum minum coca cola
Jangan dulu bermain cinta
Kalau belum tamat sekolah

Terang bulan terang di kali
Buaya timbul disangka mati
Jangan percaya omongan lelaki
Berani bersumpah takut mati

Kemumu di dalam semak
Jauh melayang selarasnya
Meski ilmu setinggi tegak
Kalau tidak sembahyang apa gunanya



Asam pauh dari seberang
Dimuat di dalam peti
Badan jauh di rantau orang
Kalau sakit siapa ngobati

Burung jelate’ burung jeladan
Burung terkukur terbang tinggi
Sama cantik sama sepadan
Diukur sama tinggi

Aduh-aduh Siti Aisyah
Mandi di kali rambutnya basah
Tidak sembahyang tidak puasa
Di dalam kubur mendapat siksa

Kalau ada ulat di papan
Jangan engkau pukul dengan tangan
Kalau ada surat titipan
Jangan kau baca duluan

Pohon manggis di tepi rawa
Tempat kakek tidur berdua
Nenek menangis sambil tertawa
Melihat kakek bermain gandu


Dendang satu, dendang dua
Pecah periuk perendangan
Entah makan entah tiada
Asalkan duduk berpandangan


Ramaiorang bersorak-sorak
Menepuk gendang dengan rebana
Alangkah besarnya hati anak
Mendapat baju dengan celana

Kirim saya sehelai baju
Dari sutera daun buluh
Kalau tuan ranting kayu
Saya daun untuk peneduh

Daripada makan apel
Lebih baik makan durian
Daripada baca novel
Lebih baik baca alqur’an

Jalan-jalan ke kota baju
Beli emas tidak ada jual
Jadi orang jangan suka merajuk
Harga kompeng tuh mahal

Anak udang, udang juga
Boleh jadi anak tengiri
Anak orang, orang juga
Boleh jadi anak sendiri

Kalau abang hendak membelah
Jangan lupa memakai parang
Kalau abang hendak sedekah
Jangan lupa membawa uang



Hampir besar buah duku
Dimakan orang sampai habis
Burung pandai membaca buku
Tentu kita pandai menulis


Hijau-hijau buah rambutan
Sungguh hijau enak dimakan
Entah jodoh atau bukan
Jodoh itu ditangan Tuhan

Jalan-jalan ke pantai kijing
Jangan lupa membeli kepitig
Bagaimana kepala tidak pusing
Melihat cowok matanya juling

Beribu-ribu ular di sawah
Hanya satu yang berbisa
Beribu-ribu anak di sekolah
Hanya satu yang ku suka

Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian

Bandar baru seberang perai
Gunung dauk bercabang tiga
Hancur badan bercerai-berai
Budi yang baik dikenang juga


Dari mana datangnya koran
Kalau bukan dari wartawan
Dari mana datangnya teman
Kalau bukan dari kenalan

Buah nangka buah kedondong
Buah delima tumbuh di taman
Jadi anak janganlah sombong
Kalau sombong tak punya teman

Anak nelayan menangkap pari
Sampannya karam melanggar karang
Sungguh malang nasibku ini
Ayah pergi ibu berpulang


Kura-kura dalam perahu
Hari sabtu malam minggu
Pura-pura tidak tahu
Dalam hati I Love You

Untuk apa membeli tinta
Kalau tidak membeli gelas
Untuk apa main cinta
Kalau hanya teman sekelas

Musik indah mengalun dari radio
Sungguh enak didengar telinga
Sangat bermanfaat mengoleksi perangko
Menambah ilmu dan wawasan kita


Kelinci kecil putih warnanya
Melompat cepat sangatlah lucu
Mari teman gemar berolahraga
Membuat badan sehat selalu

Naik delman keliling kota
Sambil bernyanyi bertepuk tangan
Mari kawan kita berkarya
Jangan hanya berpangku tangan

Daun seledri enak disayur
Buah mentimun enak dilalap
Muka Andri kena kapur
Bapak mengira ia berbedak

Naik perahu arungi samudra
Singgah sebentar di bumi aceh
Kalau kamu ingin bahagia
Beribadahlah dan beramal saleh

Gara-gara hujan gerimis
Bikin basah alam semesta
Gara-gara senyum manis
Bikin aku jatuh cinta


Kalau kamu beli sepatu
Bungkuslah dengan kain
Kalau kamu sudah punyaku
Jangan sampai cari yang lain


Di hutan larik ada pohon waru
Pohon waru banyaknya tujuh
Kalau aku katakan I Love You
Maukah kamu jadi pacarku?

Burung dara burung merpati
Terbang bersama ke sana ke sini
Coba kau lihat wajah si Jamyas Suhardi
Aduhai… manis sekali

Sudah malam cepatlah tidur
Jangan lupa bangun pagi-pagi
Bila kau susah pasti akan ku hibur
Karena engkaulah sahabat sejati

Bersikaplah dengan sopan
Agar kamu selalu dihormati
Bila punya cinta jangan disimpan
Nanti bisa-bisa kau bunuh diri

Bila kamu ingin judi
Mainlah dengan tertib
Bila hidup jangan takut mati
Karena mati adalah wajib

Kalau abang mau ke pasar
Jangan lupa membeli coklat
Kalau abang mencari pacar
Jangan lupa cari yang rajin shalat



Naik-naik ke atas bukit
Putus tali digigit kera
Hati siapa yang tak sakit
Putus cinta tanpa bicara

Jalan-jalan ke pasar
Tidak lupa membeli topi
Masih kecil rajin belajar
Sudah besar jadi polisi

Naik kapal singgah berlabuh
Turun sebentar beli baju
Bila sobat pergi jauh
Janganlah kau lupakan aku

Jalan-jalan sepanjang jalan
Singgah sebentar di rumah orang
Pura-pura datang berjualan
Pandangan mata di gadis orang

Air keroh kolam pun keroh
Sama-sama mencuci kaki
Adik jauh abang pun jauh
Sama-sama rindu di hati

Hari ini bersayur tangkul
Besok pagi bersayur serai
Hari ini kita berkumpul
Besok pagi kita bercerai



Aku coba menguncang mangga
Kalau berbunyi tandanya tua
Ku coba bermain mata
Kalau balas tandanya suka

Burung beo berkicau merdu
Berkicau merdu dekat kali
Hati rindu ingin bertemu
Bertemu dengan abang pujaan hati

Pukul gembang delapan belas
Burung gelatik di pinggir kali
Ibarat kembang di dalam gelas
Akan dipetik susah sekali


Bunga lada tingginya sama
Ambil setangkai kembang melati
Adinda janji terlalu lama
Tiada dapat saya menanti


Jentayu burung jentayu
Hinggap di balik burung mayang
Bunga kembang sahajakan layu
Budi baik bilakan hilang


Rumah limas baginda sultan
Bunga kemuning tumbuh di taman
Tangkainya emas bunganya intan
Bolehkah ranting dipatahkan

Daun empelas di atas atap
Burung nuri beranak kembar
Tidak berisi apa disantap
Nasinya basi lauknya hambar

Tinggi-tinggi si matahari
Anak kerbau mandi terlambat
Sekian lama kami mencari
Sekarang kini baru di dapat

Rumahnya kecil paranya lima
Tempat menyalai ikan pari
Adik kecil saya bertanya
Berapa harga intan di jari

Ku buka hari kamis
Ku tutup hari minggu
Ku buka salam manis
Kutitipkan salam rindu


Kalau kamu punya pengaris
Lukislah ikan hiu
Kalau kamu pandai bahasa inggris
Apa artinya I Love You?


Tiada puan kelapa padi
Daun tarap di atas bukit
Tiada tuan siapa lagi
Harapan saya bukan sedikit

Anak ikan dimakan ikan
Pukul gendang nyaring bunyinya
Sahabat bukan saudara ukan
Badan bertemu karena untungnya

Jalur ini berkajang atap
Dapatlah kuntum di gua batu
Kalau etikad tiada tetap
Bilakan sampai ke tempat itu

Mentimun panjang sejengkal
Sehasta dengan biji-bijinya
Lautan ambun karangnya tebal
Alam bergerak sendirinya

Lepas burung bertali benang
Jambu air batangnya tinggi
Tiada urung saya berenang
Asal boleh mendapat lagi

Berkali-kali kita gagal
Ulangi lagi dan cari akal
Berkali-kali kita jatuh
Kembali berdiri jangan mengeluh



Hanya sendiri dia datang
Ke dunia yang ramai ini
Hanya sendiri dia pulang
Dari dunia fana ini


Buat apa berambut panjang
Kalau tidak disisir rapi
Buat apa berkata sayang
Kalau tidak sehidup semati

Aku lalai di pagi hari
Beta lengah di masa muda
Kini hidup beracun hati
Miskin ilmu miskin harta

Sepatu kaca sepatu Cinderella
Sepatu dipakai hadir di pesta
Sakit di hati terasa kecewa
Karena cinta mu yang terpaksa

Kain beledu disangka kasar
Halus tidak dapat ditenun
Laut madu pantainya kasar
Haus tidak dapat diminum

Padi di telun pagartian kondis
Jawa menyambut ratu Anum
Hati disalut dengan manis
Nyawa di ubun masih tersenyum


Tuan toko anaknya bodoh
Lagi disuruh tulis karangan
Kalau ada untung dan jodoh
Masa urung jadi pasangan

Jika roboh kota batu
Buah bidara disambar pipit
Jika hendak jadi menantu
Minta serahkan barang sedikit

Tiada salib tanpa mahkota
Tiada cinta tanpa derita
Kalau kamu ingin bahagia
Carilah pacar yang paling setia


Apa guna pasang pelita
Kalau tidak bersumbu kain
Apa guna bermain cinta
Kalau tidak berjanji kawin

Ikan hiu ku sangka tamban
Kalau tamban mana loncatnya
Orang rindu disangka demam
Kalau demam mana pucatnya

Air keruh danau pun keruh
Sama-sama mandi ke darat
Abang jauh aku pun jauh
Sama-sama berkirim surat


Unggas undan si raja burung
Terbang ke desa suka menanti
Wahai badan apalah untung
Senantiasa bersusah hati

Dari hulu hilir berakit
Pencalang mudik batang kapuas
Tiap bulu menaruh sakit
Sayang akan adik tidaklah puas

Rama-rama si kumbang jati
Khatib entah pulang berkuda
Patah tumbuh hilang berganti
Pusaka tinggal begitu jua

Kalau tuan pergi ke laut
Carilah sahaya kelam bertelur
Kalau tuan menjadi rambut
Saya menjadi bunga melur

Daun tarap daun peluntan
Ikan gabus dipotong-potong
Jangan harap pemuda tampan
Bajunya bagus dompetnya kosong klontong


Tiada gitar yang paling indah
Selain gitar Roma Irama
Tiada cinta yang paling indah
Selain cinta yang pertama


Buah nangka di kebun cina
Sudah diambil lalu dikupas
Tidak ku tahu diriku dihina
Surat ku sampai tidak dibalas

Kupu-kupu menghisap madu
Menghisap madu di samping rumah
Jangan suka menganggu aku
Karena aku masih sekolah

Cangkok manis jangan dicabut
Kalau dicabut simpan ke tepi
Adik manis jangan direbut
Kalau direbut betinju jadi

Wajah yang manis pucat berseri
Laksana bulan kesiangan
Berjalan tunduk memikirkan diri
Tiada memandang kiri dan kanan

Rasanya ingin bermain gitar
Lagu sendu gubahan dariku
Anda ingin menjadi pintar
Jangan lupa membaca buku

Ketika naik perahu layar
Air berputar berbuih-buih
Karena ia rajin belajar
Gelar juara dapat diraih



Kalau takut terkena getah
Jangan suka memetik daun
Hati siapa yang tidak susah
Kalau nilai selalu turun


Pergi ke kedai membeli labu
Labu pesanan dari nenek
Orang memakai baju baru
Hamba tak lepas berbaju sobek

Masuk ke lubuk jatuh ke lubang
Sesak pandan dalam jambangan
Apa sudahnya berhati bimbang
Rusaklah badan berkepanjangan

Gurun petus penuba limbat
Pandan tersandar di seberang
Tujuh ratus carikan obat
Badan bertemu maka senang

Lebat hujan di gunung denpu
Tempias sampai ke tengah lapangan
Hendak mati di ujung kuku
Hendak berkubur di tapak tangan

Bertamu dengan pangeran Agung
Ia lah raden di gunung sari
Aib dan malu kakanda tanggung
Adinda di mana kakanda cari


Raden Inu di kuripan
Dicuri ratu Sijuindu
Sepantun jentayu menanti hujan
Tidak kuasa menanggung rindu

Dicuri ratu Sijuindu
Dibuangkan ke dalam laut
Tidak kuasa menanggung rindu
Bagaikan datang rasanya maut

Mati ditembak oleh Belanda
Penabur terserak di tengah padang
Duduk terkenang akan adinda
Nyawa di tubuh rasanya melayang


Anak pergam di pucuk pauh
Pohon cempaka bunganya kembang
Menaruh dendam dari jauh
Hati gelora bercampur bimbang

Ambil buluh pagarkan padi
Rakit buluh dari seberang
Hancur luluh rasanya hati
Sakit sungguh kasih seorang

Pergi memancing makai dokar
Di tengah jalan melihat ikan betutu
Jika kamu ingin pintar
Turutilah apa kata guru


Ada kancil di luar pagar
Berbinar-binar mencari mangsa
Sejak kecil malas belajar
Sudah tua jadi tersiksa

Alam itu ciptaan Tuhan
Bintang tak seterang bulan
Di dalam hati ada perasaan
Namun tak pernah terungkapkan

Kalau anda ingin shalat
Jangan lupa baca shalawat
Kalau anda ingin selamat
Jangan lupa ajaran Muhammad

Anak cina baca yasin
Dibacanya setengah ayat
Aku cinta lahir batin
Dari dunia sampai akhirat

Jalan-jalan ke Singkawang
Tidak lupa membeli barang
Kalau abang memang sayang
Rebut adik di tangan orang

Ikan gabus jangan dipanggang
Kalau dipanggang banyak lemaknya
Cewek cantik jangan dipandang
Kalau dipandang banyak tingkahnya



Cinta ku cinta kilat
Kalau digosok makin mengkilat
Kalau abang rindu berat
Cepat-cepat kirim surat

Buah ara, batang dibantun
Mari dibantun dengan parang
Hai saudara dengarlah pantun
Pantun tidak mengata orang

Mari dibantun dengan parang
Berangan besar di dalam padi
Pantun tak mengata orang
Jangan syak di dalam hati

Berangan besar di dalam padi
Rumpun buluh dibuat pagar
Jangan syak di dalam hati
Maklum pantun saya belajar

Cempedak dikerat-kerati
Batang perepat saya runtuhkan
Saya budak belum mengerti
Sebarang dapat saya pantunkan

Batang perepat saya runtuhkan
Berangan di atas kota
Seberangan dapat saya pantunkan
Jangan pula saya dikata



Berangan di atas kota
Celana patah dipijak
Jangan pula saya dikata
Karena saya bukannya bijak berkata


Cerana patah dipijak
Patah dipijak ‘ncik Sitti
Saya ini bukannya bijak
Tambahan tidak mengerti

Patah dipijak oleh ‘ncik Sitti
Kain tersangkut jatuh ke lumpur
Tambahan pula tidak mengerti
Dapat sedikit beribu syukur

Maulah kami hendak melapun
Lapun di bawah limau lungga
Maulah kami hendak berpantun
Pantun sebuah hilang pula

Maulah kami hendak melapun
Lapun dibawa sang raja menjaja
Jangan marah kami berpantun
Budak kecil biasa manja

Lapun dibawa raja menjaja
Datanglah dari pulau batu
Budak kecil biasa manja
Mamak dahulu juga begitu


Jurangan bernama Sutan Tahir
Muat beras bercampur pulut
Selama masa adikku lahir
Telah boleh kawan bergelut

Orang Bandung memintal kapas
Anak cina berkancing tulang
Ayah kandung pulanglah lekas
Anakanda rindu bukan kepalang

Dari Bengkulu ke Semarang
Arus deras ke Mendalika
Dari dulu sampai sekarang
Hatiku tidak berdua tiga

Sungai kapuas arusnya deras
Banyak batang lintang pukang
Sungai kapuas ilmunya keras
Banyak orang datang tidak bisa pulang

Pagi-pagi cabut rumput
Pulang ke rumah sakit perut
Panggil dukun tukang urut
Aku kentut dukun terkejut

Untuk apa beli batik
Kalau tidak ada selendang
Untuk apa berwajah cantik
Kalau tidak rajin sembahyang



Rambut pirang indah berkepang
Rambut ikal enak dipegang
Hati siapa yang tak senang
Bila dirayu pacar tersayang

Kalau begini rasa hatiku
Hanyut cendewan dengan kakinya
Jika begini rasa hatiku
Aduhai badan apa jadinya

Kalau adik menebang buluh
Buluh buat ketiti
Kalau adik berhati sungguh
Abang harap sabar menanti

Kain sarung di dalam rumah
Kain berlipat di dalam peti
Tidakkah bapak iba kasihan
Melihat saya berdiri di sini

Bunga mawar bunga melati
Disiram setiap hari
Pacar apa yang kau cari
Tentu pacar yang baik hati

Ambil lada di rumah samping
Ambil uang membeli benang
Melihat adinda ada di samping
Hati kusut menjadi senang



Awan berkisar di gunung tinggi
Nyala pelita ditaruh minyak
Duduk di mana tuan kini
Hilang di mata di hati tidak


Batu lojang buat asahan
Tanam dalam separuh mati
Bimbang siang boleh ditahan
Bimbang malam serasa mati

Burung terkukur terbang tinggi
Terbang tinggi menari-nari
Badan kamu memang seksi
Tapi sayang gak mandi pagi

Buah nangka dibelah empat
Jatuh satu dimakan ulat
Mentang-mentang anak pak camat
Senggol sedikit langsung ngeluarkan silat

Ambil ketupat di atas lemari
Layang-layang di Kalibata
Di mana tempat saya kan cari
Terbayang-bayang di biji mata

Anak cina naik palangkin
Sudah palangkin kereta kuda
Kami hina lagi miskin
Sudah miskin melarat pula


Orang teluk pergi menjala
Dapatlah ikan dua tiga
Alangkah buruk untung saya
Tidur bertilam air mata

Tinggi letaknya pagar ini
Pada yang tidak rimbun lagi
Maka dikarang surat ini
Hati nan tidak tahan lagi

Anak orang di sungai paku
Tanjung pandan teluknya redup
Tidak orang seperti aku
Menanggung dendam seumur hidup

Singgah memetik kuntum delima
Harum sangat ia berbau
Putik sudah menjadi bunga
Jarum disimpan menjadi paku


Sapu lidi sapu jendela
Patah satu di negeri cina
Abang ganteng aku tak rela
Bukan satu di dalam dunia

Perahu ini nahkoda basuk
Dilayarkan nahkoda puri
Bagaimana kapal hendak masuk
Belum ditimbang cukai negri


Kalau abang jual rambutan
Biar adik jual kain
Kalau abang jadi rebutan
Biar adik cari yang lain

Anak gadis anak emas
Sedang gelisah menanti pangeran
Adik manis berhati emas
Jangan menangis ada pangeran

Jangan susah mencari berita
Karena berita datangnya dari wartawan
Jangan susah mencari cinta
Karena cinta datangnya dari kawan

Bolehkah saya jadi pemburu
Hanya senapang yang ku pegang
Bolehkah saya jadi pacarmu
Hanya kau yang ku sayang

Bergerak-gerak bagaikan dacing
Bagaikan patah diimpit lupang
Bergerak-gerak kumis kucing
Melihat tikus membawa senapang

Pagi dan sore menghitung hari
Tak terasa perutnya lapar
Jangan sering melihat televisi
Nanti kita malas belajar



Pohon jambu sedikit akar
Melempar nuri dengan kerikil
Bila kamu rajin belajar
Tentulah nanti akan berhasil


Burung dara lepas di tangan
Burungnya bodoh kembali juga
Itulah dia siswa teladan
Sebagai contoh kita semua

Karena hujan telah reda
Elang bangkit mencari rejeki
Hasrat ke sekolah telah tiada
Merasakan sakit serasa mati

Anak gajah menarik pedati
Memahat batu dengan parang
Hilang sudah gundah di hati
Melihat ibu sudah pulang

Burung kutilang terbang lepas
Kakak tua memakan roti
Jadi orang janganlah malas
Di hari tua menyesal nanti

Ayo kawan naik dokar
Pergi ke pasar membeli kencur
Ayo kawan rajin belajar
Agar kelak menjadi insinyur


Berlayar menuju ke tengah lautan
Lupa membawa perahu dayung
Kasihan anak tak berpengetahuan
Bagaikan katak dalam tempurung

Berteduhlah elang dipohon bambu
Karena hujan turun dengan lebatnya
Sungguh malang nasib keluargaku
Rumah tiada uangpun tak punya

Ambil tangga saya ukiri
Anak bandan bermain piring
Apa juga yang dipikiri
Sampailah badan kurus kering

Tanam pandan di Surabaya
Buah jati atas pangkuan
Nasib badanlah sia-sia
Bimbang di hati tidak karuan


Rumput manis di dalam padi
Orang berlayar dalam perahu
Kami menangis di dalam hati
Seorang manusia tidak tahu

Rumah baru empat persegi
Dindingnya papan ditaruh cat
Kalau disuruh memijit kaki
Tidaklah akan menjadi cacat


Dalam rumah hidup bersama
Dinding batas tiap ruangan
Tamu tinggal berlama-lama
Senyum simpul jadi omelan

Buat rujak beli belimbing
Campur juga buah mangga
Sungguh enak beristri sumbing
Meski marah tertawa juga

Naik oplet ke pasar baru
Jangan lupa beli rambutan
Paling enak pengantin baru
Masuk kamar cubit-cubitan

Anak cina berkain basah
Bakar tulang baunya angit
Dilihat jinak dipegang susah
Ibarat bulan tinggi di langit

Ambil susu di pasar ikan
Susu kambing di kalimati
Bukan lesu kurang makan
Lesu sebab menahan hati

Seluang ikan dalam payu
Makan padi rendamkan patung
Tidak orang seperti saya
Makan hati berulam jantung



Anak islam pegang biola
Dapat guru si tuan haji
Maka hati menjadi gila
Sebab adinda mungkirkan janji


Cincin bindu permata selan
Jatuh ke padang ke pati temu
Jikalau rindu pandanglah bulan
Dalam bulan kita bertemu

Daun keladi bercabang dua
Patah satu melayang-layang
Kalau jadi kita berdua lepaskan niat
Ke Batu layang

Daun manggis bertali-tali
Capa di karang dengan ijuk
Meskipun menanggis berhari-hari
Tidak siapa datang membujuk

Jawi hitam tidak bertanduk
Memakan rumput di atas munggu
Lihatlah ayam tak berinduk
Demikian hidup anak piatu

Bapak itu pergi ke pasar
Pulangnya membeli roti
Anak itu rajin belajar
Tapi sayang lupa mengaji


Jalan-jalan ke kota Bandung
Ketemu pula sama pak Arit
Lihat cewek pakai kerudung
Kaki tersandung tercebur ke parit

Padi menunduk tanda berisi
Berilmu karena bersekolah
Jangan terpaku di depan televisi
Ambil buku dan belajarlah!

Anak keling pulang berobat
Ambil kawat di atas peti
Kalau betul mau bersahabat
Jangan dibuat setengah hati

Pasar minggu di pasar lama
Ambil tembaga dari pematang
Saya menunggu terlalu lama
Belum juga adinda datang


Anak muda berantai dokoh
Padang lawas larian kuda
Sekarang baru mendapat jodoh
Barulah puas hati kakanda

Mati dipanah dewa mempelai
Pohon kenari tangga rumahnya
Di hati abang tidak ternilai
Sebuah negri bukan harganya


Padi itu datang dari Palembang
Nyarislah salah membelah kayu
Lain dituju lain yang tumbang
Allah taala juga yang tahu

Buah keraksa di ujung galah
Buah keranji di atas papan
Bukanlah berdosa kepada Allah
Memuji orang berhadapan

Batang keladi di kampung lima
Pasang dian di tengah jalan
Jikalau sudi boleh diterima
Jangan kemudian jadi sesalan

Kelapa muda makan di sawah
Tuan haji duduk sembahyang
Ketika bermuka dengan ayah
Ibu tiri berupa sayang

Selempada berlari-lari
Mengejar musang dengan kera
Daripada tinggal dengan ibunda tiri
Lebih baik hidup sebatang kara

Manis harum mangga kweni
Kecil-kecil si buah duku
Sungguh rindu hati ku ini
Bila mengenang masa kecilku



Air matang dalam belanga
Kapal berlayar di laut biru
Hati tambah berbunga-bunga
Jika ibu memeluk daku


Pucuk pisang pelepah pisang
Pucuk labu dijulai manis
Duduk sedang berdiri sedang
Baju dadu ku pandang manis

Jalan-jalan ke Cibubur
Jangan lupa membeli rendang
Kalau kalian ingin terhibur
Dengarkan saja kami berdendang

Main bukan sembarang main
Main gundu di tanah seberang
Mari kawan kita bermain
Kita bermain sambil bergoyang

Ulang tahun meniup lilin
Lilin disimpan di dalam kotak
Barang siapa tidak disiplin
Pastikan salah dalam bertindak

Wahai muda kenali dirimu
Ialah perahu tamsil tubuhmu
Tiadalah beberapa lama hidupmu
Di akhirat juga kekal dirimu


Sudah siang belum makan
Makan nasi keburu basi
Rajin shalat kuatkan iman
Besar nanti hidup terpuji

Baju pesta disulam peniti
Sobek sedikit tampaklah badan
Siang malam takkan berhenti
Panjatkan doa kepada-Mu, Tuhan

Embusan angin bertiup lembut
Membuat orang jadi terlena
Ada buah mempunyai rambut
Buah apakah itu namanya?

Sayang-sayang buah kepayang
Buah kepayang hendak dimakan
Manusia hanya boleh merancang
Kuasa manusia Allah menentukan

Rumpun buluh dibuat pagar
Cempedak dikerat-kerati
Maklumlah pantun saya belajar
Saya budak belum mengerti

Tidak ada komentar: