Senin, 12 Desember 2016
SYAIR
Cinta
Cerita indah tentang kita
Telah terukir nama kita
Di buku nikah tanda setia
Kini buah cinta
Telah hadir diantara kita
Membuat gelak tawa, senyum ria
Mengisi hari yang penuh makna
Cintaku kan selalu tuk mereka
Di mana pun Ku kan berada
Jauh dekat akan selalu ada cinta
Sebagai pengikat diantara kita
Cinta akan membuat kita
tuk saling menjaga
Cinta akan membuat kita
Tuk selalu bahagia
Jumat, 01 Januari 2016
TEKS PROSEDUR
Jumat, 24 April 2015
Perspektif Pendidikan dari Segi Biaya
Selasa, 31 Maret 2015
PKP UT
Selasa, 31 Januari 2012
The School Library Role as a Learning Reference for Students
This research background is to describe the school library role as a learning reference for students at SMA N 1 Ngabang Kabupaten Landak in Bahasa Indonesia subject. Based on the analizing and some reviews about school library at this school. The writer conscludes as follows:
First, concerning with membership, there was 92,86% of the student stated that school library is needed for them. Besides 85,71% stated the importance to be school library members. 64,29% stated the members should be active. Therefors, the important point there, is student motivation in accessing school library. Both teacher and students there expressed that school library can be learning reference. In fact 45,71% of student have visited the library because of learning motivation. From the data, the writer concludes that school library at SMA N 1 Ngabang is good enough.
Second, concerning with visiting, 78,57% the students stated visiting library is useful in either for doing school tasks or increasing knowledge. And in fact there at least once a week students visit the library. As the result, the writer conscludes students visit the library is good.
Third, concerning with availabllity of references 71,43% at students stated, reference books for bahasa Indonesia was still unsufficient. And also 75,71% for others media was also unsufficient. However 64,29% expressed studying in the library was comfortable with a good service from the librarian.
Forth, concerning with students activities and attitudes, varius activities browsing books, reading, doing tasks, borrowing, and discussing. The data refers 58,29% of students intiated to acces library especially in bahasa Indonesia. In getting some subject mattens of their classroom tasks. Beside 51,43% of the students often reading and discussion in library. The writer consclude that the activities in the library for students at SMA N 1 Ngabang is positif good.
Fitth, concerning wit references utility of bahasa Indonesia 60% of students had high motivation, 77,14% stated the importance of accessing the library. 61,43% stated it is useful enough in using library. As the result, the writer has a consclusion for references utility as learning source. The libaray can guide positive attitude for students and increasei reading interest.
Selasa, 20 Desember 2011
KEPALA SEKOLAH KAITANNYA DENGAN PERKEMBANGAN TEKNOLOGI
Kata “kepala sekolah” tersusun dari dua kata yaitu “kepala” yang dapat diartikan ketua atau pemimpin dalam suatu organisasi atau sebuah lembaga, dan “sekolah” yaitu sebuah lembaga di mana menjadi tempat menerima dan memberi pembelajaran. Secara sederhana kepala sekolah dapat didefinisikan sebagai seseorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah di mana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat di mana terjadinya interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran.
Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Sebagaimana dikemukakan dalam Pasal 12 ayat 1 PP 28 tahun 1990 bahwa: “Kepala sekolah bertanggungjawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya, dan pendayagunaan serta pememliharaan sarana dan prasarana”.
Untuk menjawab tantangan dari pasal 12 ayat 1 PP 28 tahun 1990 tersebut seorang kepala sekolah harus bisa bekerja secara profesional, yang mana memiliki berbagai keterampilan. Karena keterampilan tersebut sebagai bekal dalam melaksanakan roda kepemimpinannya, diantaranya terampil dalam memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen sekolah, antara lain pertama, mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam mengurus administrasi sekolah. Kedua, mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komukasi dalam pembelajaran, baik sebagai sumber belajar maupun sebagai alat pembelajaran.
Harapan tersebut sebenarnya bisa terwujud jika pihak yang berkompeten dalam pengangkatan kepala sekolah benar-benar memperhatikan bagaimana seharusnya sosok seorang kepala sekolah, selain dia harus memiliki empat kompetensi. Namun banyak faktor penghambat tercapainya kualitas keprofesionalan kepala sekolah seperti proses pengangkatannya tidak trasnparan, rendahnya mental kepala sekolah yang ditandai dengan kurangnya motivasi dan semangat dalam melakukan tugas dan wawasan kepala sekolah yang masih sempit, serta tidak menguasai teknologi khususnya tentang pemanfaatan komputer sebagai alat yang membantu dalam bekerja untuk menyelesaikan administrasi.
Sehingga, yang terjadi dilapangan banyak kepala sekolah yang termasuk dalam kategori gaptek (gagap teknologi). Tentu saja, jika seorang kepala sekolah tidak memiliki keterampilan dalam memanfaatkan komputer hal ini akan mengganggu kelancaran administrasi di sekolah. Apalagi sekolah yang ditempati kepala sekolah tersebut termasuk dalam sekolah penyelenggara, otomatis administrasi yang dikerjakan cukup banyak terutama saat-saat menghadapi ujian sekolah maupun nasional. Hal seperti ini terjadi karena ketidakjelian pemerintah dalam menentukan siapa yang berhak menjadi kepala sekolah dan ditambah lagi dalam proses pengangkatan tidak melalui tes cakep (calon kepala). Selain itu, ada yang menjadi kepala sekolah karena ada hubungan keluarga dengan pejabat yang berwenang maupun sistem SDM (Siapa Dekat Maju).
Cara-cara seperti itu sebenarnya tidak perlu terjadi karena beban kerja seorang kepala sekolah cukup berat apalagi tingkat SD tidak memiliki TU (Tata Usaha) yang mengelola administrasi. Selain itu, administrasi yang harus diselesaikan begitu banyak salah satu contoh dalam pembuatan laporan BOS. Jika dalam membuat laporan BOS saja kepala sekolah sudah meminta orang lain yang membuatnya, bagaimana lagi dengan administrasi sekolah yang lain? Dan hal seperti ini banyak terjadi di lapangan karena kepala sekolahnya tidak tahu komputer. Yang namanya meminta bantuan orang untuk membuat laporan tidak bisa selesai dengan cepat dan akurat, pasti ada kelemahan-kelemahan yang terjadi, apakah kerapiannya, tata tulisnya maupun kesesuaian isi laporan. Maka tidak heran biasanya pada saat kepala sekolah mengantar laporan BOS ke dinas pendidikan untuk diperiksa, banyak yang dikembalikan untuk diperbaiki.
Jika hal-hal yang seperti dikemukakan sesudahnya masih saja terjadi, maka akan mengalami kesulitan dan bagaimana kualitas pendidikan? Apalagi pada 2013 seorang kepala sekolah harus melakukan penilaian kinerja, barang tentu hal tersebut menuntut keprofesionalan dalam membuat administrasinya dan alat yang bisa membantu, yaitu komputer. Oleh sebab itu, saya sarankan berpikir matang-matang sebelum mengambil jabatan sebagai kepala sekolah karena kerjaannya banyak sedangkan tunjangan yang diberikan pemerintah sangat-sangat kecil, sebagai contoh seorang kepala sekolah dasar cuma seratus ribu lebih. Sedangkan tuntutannya dia harus menyelesaikan sekian puluh administrasi bahkan ratusan lebih administrasi sekolah. Kalau di sekolah besar masih mendingan karena BOS bisa bantu, tetapi kalau di sekolah kecil tidak ada yang bisa bantu melainkan mengorek kantong sendiri. Karena ada pepatah yang mengungkapkan jika sudah menjadi kepala, “Biar tekor asal tersohor”.
Minggu, 20 November 2011
MIMPI INDAH GURU
Pemerintah (Orang yang mempunyai kebijakan) harusnya menyadari bahwa tugas seorang guru sangatlah berat. Hal tersebut tertuang dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen pada bab I pasal 1 yang menyatakan bahwa guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Apalagi yang dididik guru ini adalah para anak bangsa. Generasi penerus cita-cita bangsa ke depannya untuk menjadikan negara (
Apalagi seiring perkembangan zaman sekarang berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat maupun daerah terhadap guru selalu mengharapkan bahwa guru harus melakukan pengembangan diri untuk menjadikan dirinya professional. Kata ini memang mudah disebutkan, tetapi untuk mewujudkannya pasti memerlukan biaya dan itu tidak murah. Oleh sebab itu, jika tuntutan itu tidak diiringi dengan kebijakan yang memberikan penghargaan yang sewajarnya kepada guru, hal tersebut pasti sulit untuk memenuhinya. Karena kebutuhan guru bukan hanya kebutuhan untuk melakukan pengembangan diri saja, melainkan guru juga punya kehidupan pribadi, istilah lainnya keluarga yang perlu diberi nafkah dan fasilitas sandang pangan. Ditambah lagi guru juga mempunyai mimpi-mimpi yang indah yang ingin diwujudkan seperti kebanyakan orang, bukan lagi sosok Umar Bakri di sinetron atau film.
Kalau kita bicara tentang Umar Bakri, sekarang masih banyak Umar Bakri. Mereka adalah guru-guru yang mengajar di daerah pedalaman baik guru SD maupun guru SMP Satu Atap. Mereka adalah Umar Bakri yang sangat mengharapkan perhatian dari semua pihak, baik pemerintah pusat maupun daerah. Karena kenyataan yang terjadi guru yang mengajar di pedalaman dengan guru yang mengajar di kecamatan apalagi
Kenyataan ini sebenarnya realita yang nampak oleh mata pemerintah. Namun, walaupun nampak tidak pernah tergubris di hati pemerintah untuk memperhatikan nasib mereka. Kalaupun ada kebijakan yang memperhatikan mereka di pedalaman, tetapi syarat untuk mendapatkannya berbelit-belit dan bahkan peraturan itu tidak memihak. Karena yang membuat peraturan para politikus kota bukan orang yang bekerja di pedalaman. Mana para politikus kota tahu menahu keadaan di pedalaman. Seharusnya jika pemerintah berniat ingin memberikan penghargaan atau tunjangan pada para guru yang ada di pedalaman tidak usah banyak syarat atau embel-embel, ini banyak hal yang harus dipenuhi harus lima tahun dululah baik honor maupun mengajar, miliki inilah, miliki itulah. Yang jadi pertanyaan satu sampai lima tahun itu mau diberi tunjangan atau penghargaan apa? Tetapi kenapa tunjangan-tunjangan yang diterima oleh anggota dewan, tidak ada embel-embel itu ini yang harus mereka penuhi, besar lagi dari segi jumlah. Padahal saat sidang ada yang tidur, ada yang main hp, ada yang ngobrol satu sama lain.
Berilah kesempatan pada para guru yang mengajar di pedalaman bermimpi dan pihak yang berwenang, yaitu pemerintah wujudkan mimpi mereka seperti orang-orang yang ada di kota. Sudah waktunya mereka diperhatikan bukan guru yang termarjinalkan. Buatlah sistem pegawai rolling sehingga bisa merasakan pahit manis bekerja di daerah pedalaman. Melewati jalan hutan setapak, berjalan naik turun bukit yang tersengat panasnya matahari, di tengah perjalanan terguyur hujan, motor macet di tengah hutan, bermalam di jalan makan seadanya, melewati jalan yang licin dan bercaer (lumpur), dan cerita-cerita indah lainnya (bisa anda bayangkan).
Selain itu, sudah saatnya pemerintah punya peta tentang sekolah, sehingga dalam hal pengajian guru bisa dilakukan dengan adil. Karena selama ini keadilan itu jauh sekali. Sebagai contoh, guru yang mengajar di pedalaman dengan guru yang mengajar di kota, sebenarnya sudah seharusnya gaji guru yang mengajar di kota lebih kecil dibanding guru yang mengajar di pedalaman, misalnya guru yang mengajar di kota golongan IIIa gaji Rp 1.900.000,00/bulan, sedangkan yang seharusnya guru yang mengajar di pedalaman minimal Rp 3.000.000,00/bulan. Inipun sebenarnya lebih kecil dari uang pulsa anggota DPR. Karena yang perlu diingat yaitu semua barang yang dijual di daerah pedalaman, transportasi, dan kebutuhan hidup lainnya lebih jauh mahal, maka dari itu permasalahan ini perlu disikapi baik pemerintah maupun wakil-wakil rakyat yang duduk di dewan, jangan dapat kursi empuk lalu tidur. Sedangkan saat membicarakan gaji, tunjangan anggota dewan semangat luar biasa. Mental seperti inilah yang perlu diperbaiki.