Guruku... Alangkah besar pengabdianmu. Tanpa tanda jasa kau tetap setia mendidikku. Agar aku berguna bagi nusa dan bangsa.

Senin, 12 Desember 2016

FABEL


Pengertian Cerita fabel adalah cerita yang menceritakan kehidupan hewan yang berperilaku menyerupai manusia. Fabel  biasanya banyak mengandung unsur-unsur moral sesuai karakter manusia dalam kehidupan. Selain itu, sering menggunakan latar belakang alam yang dikemas dengan kata-kata singkat dan pendek.

Struktur Teks Cerita Fabel
1.        Orientasi adalah permulaan dari sebuah cerita yang biasanya berisi dengan perkenalan dari tokoh yang akan dibaca. Makna Orientasi sering digunakan untuk peserta didik yang baru artinya memperkenalkan situasi cerita kepada pembaca..
Contoh orientasi: Pada waktu dahulu kala hiduplah seekor anak kucing yang sedang berjalan di taman dengan bahagia, senang dan hati yang begitu cerah, hal tersebut dikarenakan dia baru saja mendapatkan ikan yang sangat besar, sehingga menjadikan dia (kusing) tampak berjalan dengan gagah, mendapati makanan yang begitu besar yang akan mengenyangkan perutnya yang lapar.
2.        Komplikasi adalah waktu terjadinya sebuah masalah yang dihadapi oleh sang tokoh utama dalam cerita. Bagian ini merupakan bagian timbulnya masalah, baik secara pribadi maupun pribadi dengan pihak lain.
Contoh komplikasi :  Tak disangka Sang Kucing yang membawa ikan besar sambil membanggakan diri itu dan sedang bahagia bertemu dengan kucing lain yang ukuran tubuhnya lebih besar yang ingin mengambil ikan besar bahagia tersebut tapi kucing bahagia tersebut tidak memberikan ikan besar itu kepada kucing yang ukuran tubuhnya lebih besar yang mengiginkan ikan itu.
3.        Resolusi adalah bagian cerita dimana sang tokoh utama mendapatkan ide untuk memecahkan masalah yang berada dalam komplikasi. Masalah yang timbul di bagian komplikasi kemudian harus diselesaikan, hingga sang tokoh utama memiliki ide atau pemikiran untuk terhindar atau menyelesaikan masalah yang ada.
Contoh resolusi: Sang Kucing yang bahagia tadi pun mendapatakan ide untuk menyelesaikan masalahnya dengan kucing yang ukuran besar yang ingin mengambil ikan. akhirnya kucing bahagia tersebut membaginya dengan kucing yang ukuran besar lainnya.
4.        Koda adalah akhir dari cerita yang mengandung makna dari cerita atau amanat yang dapat diambil dari cerita tersebut. Sebuah cerita atau kisah, salah satunya dalam hal ini yakni Fabel harus memiliki manfaat, pelajaran, amanat yang berguna untuk kehidupan pembaca. Bagian inilah yang dimaksud dengan koda, bagian terpenting dalam sebuah alur cerita, yakni nilai manfaat.
Contoh koda: Kita sebagai makhluk ciptakaan Yang Kuasa harus saling membantu, tolong-menolong bergotong royong dalam menyelesaikan suatu masalah, terlebih jika masalah tersebut, masalah yang bersifat umum.

Ciri-ciri umum dan karakteristik fabel
1.        Menggunakan tokoh hewan dalam penceritaannya.
2.        Hewan yang sebagai tokoh utama dapat bertingkah seperti manusia (berbicara, berfikir).
3.        Menunjukkan penggambaran moral / unsur moral dan karakter manusia dan kritik tentang kehidupan di dalam ceritanya.
4.        Penceritaan yang pendek.
5.        Menggunakan pilihan kata yang mudah.
6.        Dalam cerita fabel, paling baik yang diceritakan adalah antara karakter manusia yang lemah dan kuat.
7.        Menggunakan setting alam.

 

Fungsi Fabel

Fabel sering digunakan sebagai cerita dalam rangka mendidik masyarakat.

 

Kaidah Kebahasaan Teks Cerita Fabel
Kaidah kebahasaan atau yang biasa disebut juga sebagai unsur kebahasaan merupakan ciri dari bahasa yang digunakan dalam suatu teks seperti cerita fabel.
1. Kata Kerja
Salah satu kaidah atau unsur kebahasaan dalam sebuah teks cerita fabel adalah adanya kata kerja. Kata kerja dalam cerita fabel dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu kata kerja aktif transitif dan kata kerja aktif intransitif. 
Kata Kerja Aktif Transitif, adalah kata kerja aktif yang memerlukan objek dalam kalimat, misalnya memegang, mengangkat.
Kata Kerja Aktif Intransitif, adalah kata kerja aktif yang tidak memerlukan objek dalam kalimat, misalnya diam.
2. Penggunaan Kata Sandang Si dan Sang
Pada teks cerita fabel sering sekali adanya penggunaan kata sandang si dan sang. Berikut merupakan penggunaan kata sandang si dan sang yang ada pada teks cerita fabel.
Contoh:
a.    Sang semut berkeliling taman sambil menyapa binatang-binatang yang berada di taman itu.
b.    Sang semut mengejek kepompong yang jelek yang tidak bisa pergi ke mana-mana.
c.    Sang semut selalu membanggakan dirinya yang bisa pergi ke tempat ia suka. 
d.    Si kepompong hanya diam saja mendengar ejekan tersebut.
e.    “Aku adalah kepompong yang pernah kau ejek,” kata si kupu-kupu.

Kaidah penulisan si dan sang terpisah dengan kata yang diikutinya. Kata si dan sang ditulis dengan huruf kecil, bukan huruf kapital. Perhatikan contoh penggunaan dalam kalimat-kalimat tersebut. Bedakan dengan contoh berikut ini.
a.    “Bagaimana caranya agar si kecil rajin belajar?” tanya ibu.
b.    Kedua orang itu, si Kecil dan si Kancil, adalah pembantu di pasar.

Kata kecil pada kalimat 1) ditulis dengan huruf kecil karena bukan merupakan nama. Pada kalimat 2) Kecil ditulis dengan huruf /K/ kapital karena dimaksudkan sebagai panggilan atau nama julukan.

3. Penggunaan Kata Keterangan Tempat dan Waktu
Dalam teks cerita fabel biasanya digunakan kata keterangan tempat dan kata keterangan waktu untuk menghidupkan suasana. Untuk keterangan tempat biasanya digunakan kata depan di dan keterangan waktu biasanya digunakan kata depan pada atau kata yang menunjukkan informasi waktu.

Contoh:
a.    Dikisahkan pada suatu hari yang cerah ada seekor semut berjalan-jalan di taman.
b.    Pada suatu pagi sang semut kembali berjalan ke taman itu. Karena hujan, di mana-mana terdapat genangan lumpur.
c.    Si kupu-kupu mengangkat ranting itu dan menurunkannya di tempat yang aman.
d.    Kamu hanya bisa menggantung di ranting itu.

4.    Penggunaan Kata Hubung Lalu, Kemudian, dan Akhirnya

Kata lalu dan kemudian memiliki makna yang sama. Kata itu digunakan sebagai penghubung antarkalimat dan intrakalimat. Kata akhirnya biasanya digunakan untuk menyimpulkan dan mengakhiri informasi dalam paragraf atau dalam teks.
Contoh:
a.    Setelah mendengar berita kebakaran itu, Amir pergi ke luar, kemudian berlari, lalu berteriak sambil menangis.
b.    Lalu, sang semut memegang erat ranting itu.
c.    Kemudian, sang semut berterima-kasih kepada kupu-kupu karena kupu-kupu telah menyelamatkan nyawanya.

d.    Akhirnya, sang semut berjanji kepada kupu-kupu bahwa dia tidak akan menghina semua makhluk ciptaan Tuhan yang ada di taman itu.

 

Contoh Teks Cerita Fabel 

 

KURA-KURA DAN MONYET YANG RAKUS
(Orientasi)
Di tepi hutan hiduplah seekor monyet dan seekor kura-kura. Pada suatu hari, monyet mengajak kura-kura menanam pohon pisang. "Kura-kura, mari kita menanam pohon pisang," ajak monyet. "Ayo, kau di sebelah kanan aku di sebelah kiri," jawab kura-kura. Hari berganti hari. Setiap hari kura-kura merawat pohon pisangnya. "Tumbuh, tumbuhlah pohon pisangku," kura-kura bernyanyi riang. Monyet hanya melihat tingkah kura-kura sambil tiduran di rerumputan. "Apa kabar Monyet? Bagaimana pohon pisangmu?" sapa kura-kura kepada monyet. "Biarkan saja, besok-besok juga berbuah," jawab monyet sombong.

(Komplikasi)
Bulan berganti bulan, pohon pisang kura-kura berbuah. Buahnya besar-besar. Ia akan mengundang kawan-kawannya untuk diajak berpesta pisang. Sebaliknya, pohon pisang monyet mati karena tidak dirawat. Pisang tanaman kura-kura siap dipanen.
"Bagaimana cara memetik buah pisang ini?" pikir kura-kura. "Mungkin monyet mau membantuku."
(Resolusi)
Kura-kura lalu meminta bantuan kepada monyet. "Maukah kau membantuku memetik buah pisang ini?" tanya kura-kura. "Aku bersedia, tetapi buah pisang itu nanti dibagi dua." jawab monyet. "Baik! " jawab kura-kura. Monyet lalu memanjat pohon pisang kura-kura. Bau harum buah pisang menggoda selera monyet. Ia lupa akan janjinya. Kura-kura menunggu di bawah pohon pisang. "Nyet, Nyet, mana pisang bagianku?" teriak kura-kura. "Sebiji pun tidak ada," jawab monyet rakus. "Nyet, ini pohon pisangku!" rengek kura-kura hampir menangis. "Salah sendiri mengapa tidak bisa memanjat pohon?" ejek monyet.
(Koda)
Kura-kura mulai menangis. Hatinya sedih bercampur marah. Ia lalu menggoyang-goyang pohon pisang itu. Tiba-tiba.... bruk! Pohon pisang itu tumbang. Monyet itu jatuh. Dia mengerang kesakitan. Tubuhnya tertimpa batang pohon pisang. "Ampun kura-kura, tolong aku! Aku menyesal..." kata monyet. Tetapi, kura-kura sudah berlalu. Ia mencari sahabat baru.

SYAIR

Tali Cinta


Cinta
Cerita indah tentang kita
Telah terukir nama kita
Di buku nikah tanda setia

Kini buah cinta
Telah hadir diantara kita
Membuat gelak tawa, senyum ria
Mengisi hari yang penuh makna

Cintaku kan selalu tuk mereka
Di mana pun Ku kan berada
Jauh dekat akan selalu ada cinta
Sebagai pengikat diantara kita

Cinta akan membuat kita
tuk saling menjaga
Cinta akan membuat kita
Tuk selalu bahagia

Jumat, 01 Januari 2016

TEKS PROSEDUR

Di bawah ini merupakan contoh teks prosedur  kompleks. 

TRIMANDE’ JERING

Berbicara tentang jering, apakah anda salah satu orang yang sangat suka dengan jering? Tentunya anda sudah tidak asing lagi dengan jering,  salah satu kerabat pete ini bukan?  Memiliki bau yang sangat menyengat, membuat beberapa orang tidak menyukai jering. Namun, untuk sebagian orang tidak mempermasalahan bau jering, karena rasa jering yang begitu nikmat.
Jering atau yang lebih dikenal secara umum, yaitu jengkol yang memiliki nama latinnya archidendron pauciflorum tumbuhan yang banyak tumbuh di hutan-hutan daerah kampung yang berada di pedalaman kabupaten Landak. Buahnya berupa polong dan bentuknya gepeng berbelit membentuk spiral, berwarna lembayung tua. Biji buah berkulit ari tipis dengan warna coklat mengkilap. Jering dapat menimbulkan bau tidak sedap pada air kencing (urin) setelah diolah dan diproses oleh pencernaan, terutama bila dimakan segar sebagai lalap.
Dalam menikmati jering sendiri pada saat ini memang banyak sekali caranya. Dari  yang dimakan bagitu saja sampai diolah menjadi berbagai masakan seperti semur jengkol, sambal goreng jengkol, gulai jengkol, rendang jengkol, kerupuk jengkol, jengkol masak kecap, dan trimande’ jering. Jika anda mendengar trimande’ jering tentunya anda akan membayangkan dan bertanya seperti apa bentuk dan rasanya?
Untuk itu simak cara membuatnya berikut ini! Pertama-tama kita harus menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan seperti buah jering satu kilogram, kelapa tua satu buah, daun pandan muda satu lembar, gula pasir secukupnya, gula merah satu buah (sesuai selera), dan air untuk merebus. Selanjutnya alat yang perlu disiapkan seperti kompor, dandang, kuali, pemarut kelapa, pemukul dari kayu, sengkalan (alas dari kayu), dan celoge (sendok dari kayu).
Langkah pertama, jering dikupas kulit luarnya. Setelah itu jering yang telah dikupas dicuci dengan air bersih. Masukkan jering yang telah dicuci ke dalam dandang dan diberi air secukupnya. Letakkan dandang yang berisi jering di atas kompor, lalu nyalakan kompornya. Rebus jering sekitar satu jam, tambahkan air bila kurang. Angkat dan tiriskan jering tersebut lalu pisahkan dua bagian isi jering, serta kulit arinya. Selanjutnya isi jering yang sudah dipisahkan tadi, letakkan di atas sengkalan lalu dipukul-pukul atau dipipihkan dengan kayu supaya memudahkan penyerapan bumbu. Setelah semua isi jering dipipihkan masukkan ke dandang kembali untuk direbus lagi, sehingga upar jering keluar. Setelah direbus kembali kurang lebih satu jam, angkat dan tiriskan jering tersebut.
Langkah kedua, pilih kelapa yang sudah tua lalu buang kulit luar dan tempurungnya, untuk diambil isinya. Bersihkan kulit ari kelapa sehingga kelapa tersebut menjadi putih bersih. Kelapa yang sudah dibersihkan kulit arinya lalu dicuci dengan air bersih. Selanjutnya kelapa tersebut diparut halus.
Langkah ketiga, letakkan kuali di atas kompor, masukkan gula pasir dan gula merah lalu panaskan. Aduk  sampai semua gula tersebut mencair. Setelah gula mencair, masukkan daun pandan muda yang telah disiapkan, selanjutnya aduk perlahan sampai aroma pandannya keluar. Setelah itu, masukkan kelapa parut yang sudah disiapkan, lalu diaduk secara perlahan dan terus-menerus sehingga tidak gosong. Setelah semua parutan kelapa merata tercampur dengan air gula, masukkan  jering yang sudah ditiriskan tadi. Aduk sampai bumbu tercampur dengan jering secara merata, sehingga mengeluarkan aroma wangi dari pandan dan aroma manis dari gula. Setelah dirasa matang, angkat lalu siap disajikan.

Nah sangat mudah sekali bukan cara membuat  trimande’ jering agar tidak bau saat dimakan? Apakah  anda masih ragu dan tidak ingin menikmati trimande’ jering? Tentunya tidak lagikan? Anda akan rugi jika tidak membuat trimande’ jering dengan rasa yang empuk dan enak. Selain rasa yang enak, jering juga memberi manfaat. Menurut ahli kesehatan memakan jering bisa memperlancar proses buang air besar, mencegah penyakit diabetes, dan mencegah penyakit jantung. Mari mencoba, semangat!

Jumat, 24 April 2015

Perspektif Pendidikan dari Segi Biaya

Dalam membuat kebijakan dalam bidang pendidikan pemerintah selalu berpatokan pada sekolah-sekolah yang ada di kota. Sehingga pada saat kebijakan itu diambil dan dilaksanakan secara menyeluruh, hanya sekolah di kota saja yang bisa melaksanakannya dengan baik. Sedangkan sekolah yang terkategori berada di desa tidak bisa melaksanakannya dengan baik. Apalagi sekolah yang berada di daerah terpencil, terluar maupun pedalaman hanya bisa mendengar kebijakannya saja, tetapi melaksanakannya tidak terpedaya. Karena dari segi sarana dan prasarana maupun pendidiknya terbatas.
Sebagai contoh kebijakan BOS tahun 2015. Mendengar kebijakan BOS SMP tahun 2015 naik menjadi 1 juta persiswa banyak sekolah yang bahagia.  Tetapi kebahagiaan itu hanya berada pada sekolah yang siswanya banyak. Sedangkan di daerah terpencil yang siswanya sedikit kenaikan itu tidak berarti apa-apa. Walaupun untuk SMP jika siswa tidak sampai 60 siswa maka BOSnya akan dihitung 60 siswa. Namun itu hanya isapan jempol belaka, karena kenyataannya triwulan pertama tahun 2015 masih saja sekolah yang siswanya tidak sampai 60 siswa tetap dibayar sejumlah siswanya bukan 60 siswa.
Kalau kita berasumsi hitungan 60 siswa dikali 1 juta, maka dana BOS yang diterima sebesar 60 juta pertahun. Lalu dana tersebut dibagi menjadi 4 triwulan pembayaran menjadi 15 juta pertriwulan pembayaran. Berarti dalam satu bulan dana BOS untuk operasional sekolah 5 juta perbulan.
Dengan dana 5 juta perbulan, kalau semua guru yang mengajar di sekolah tersebut PNS semua, sekolah masih bisa berbuat banyak untuk kegiatan pembelajaran di sekolah. namun fakta yang terjadi di lapangan tidak semua sekolah yang berada di daerah terpencil atau pedalaman gurunya PNS semua, melainkan banyak guru honor. Kita ambil satu dari sekian banyak SMP yang berada di daerah terpencil atau pedalaman yang berada di salah satu kabupaten yang guru PNSnya hanya satu. Guru tersebut sebagai guru dan juga sebagai kepala sekolah.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa di SMP mata pelajaran banyak, antara lain: agama (mungkin di sekolah itu ada 3 agama ini berarti sudah perlu 3 orang guru agama), bahasa Indonesia, bahasa Inggris, Matematika, IPA, IPS, Seni Budaya, Penjaskes, PKn, Keterampilan/TIK, Mulok ditambah Ekstra Pramuka. Jika guru (juga kepala sekolah) di sekolah tersebut mengajar bahasa Indonesia berati untuk mata pelajaran yang lain perlu guru lain. Dengan rincian, sebagai berikut :
Agama                                     = 3 orang guru
Bahasa Inggris                        = 1 orang guru
Matematika                            = 1 orang guru
IPA                                           = 1 orang guru
IPS                                           = 1 orang guru
Seni Budaya                            = 1 orang guru
Penjas                                      = 1 orang guru
PKn                                          = 1 orang guru
Keterampilan/TIK                    = 1 orang guru
Mulok                                      = 1 orang guru
Pramuka                                  = 2 pembina (putra dan putri)
Berdasarkan rincian di atas maka jumlah guru yang diperlukan sebanyak 12 orang dan 2 pembina pramuka. Jika satu orang diberi gaji perbulan 200.000 maka 200.000 kali 14 sama dengan 2.800.000. Jadi sisa uang yang 5 juta tadi sebesar 5.000.000-2.800.000 sama dengan 2.200.000. Transportasi pengambilan BOS 500.000 PP (jarak jauh) lalu untuk pembuatan laporan dan fotokopi berbagai berkas 200.000. Jadi jumlah dari 2 kegiatan itu berjumlah 500.000 ditambah 200.000 sama dengan 700.000. sisa dana 2.200.000-700.000 sama dengan 1.500.000.
Dana 1.500.000 ini untuk keperluan administrasi dan uang minum guru saja sudah tidak cukup untuk satu bulan. Belum lagi honor sebagai waka, wali kelas, guru piket dan lain-lain. Padahal di sekolah banyak kegiatan pembelajaran yang memerlukan biaya. Ada berbagai kegiatan di sekolah, antara lain: PSB, MOS, MID Semester, UAS, UN, Class Metting, Kemah, Pengadaan buku pelajaran, pengadaan media belajar, belum lagi kegiatan-kegiatan seperti rapat guru dan rapat orang tua siswa. Dengan demikian anggaran operasional sekolah yang 5 juta perbulan untuk seluruh kegiatan yang berkaitan dengan sekolah belum tentu cukup.
Hal yang telah dikemukakan sebelumnya harus menjadi bahan kajian pemerintah untuk membuat kebijakan ke depannya. Sehingga semua sekolah baik yang berada di daerah terpencil maupun di kota bisa berjalan dengan baik. Sesuai dengan tuntutan Standar Nasional Pendidikan. Dari gambaran di atas apakah mutu yang kita impikan semua bisa terwujud dengan mudah. Saya pikir kita perlu merenung kembali apakah yang kita bayangkan dengan kenyataan yang kita hadapi sama atau berbeda. Untuk mencapai mutu yang seperti diinginkan perlu berbagai hal yang harus ada baik dari segi biaya, sarana dan prasarana, pendidik, dan tenaga kependidikan.

Antarlah mimpi-mimpi ke siswa yang berada di daerah terpencil dan diiringi mimpi-mimpi mereka menuju keberhasilan, karena semua siswa anak bangsa. 

Selasa, 31 Maret 2015

PKP UT

Jika anda memerlukan PKP UT untuk dijadikan sebagai contoh dalam menulis laporan PKP, anda bisa menghubungi nomor ini 081257306919. Anda akan diberikan contoh laporan PKP UT terbaru.


Contoh isi laporan PKP


DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN
LEMBAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR BAGAN
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang  Masalah
B.     Rumusan Masalah
C.     Tujuan  Penelitian Perbaikan  Pembelajaran
D.    Manfaat Penelitian Perbaikan  Pembelajaran
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A.    Tinjauan Umum Tentang Mengarang  
B.     Tujuan Pengajaran Mengarang Persuasi
C.     Metode Pengajaran Mengarang Persuasi 
BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN               
A.    Subjek Penelitian 
B.     Desain Prosedur Perbaikan  Pembelajaran
C.     Teknik Analisis Data
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Penelitian 
B.     Pembahasan  Hasil Penelitian 
BAB V SIMPULAN DAN TINDAK LANJUT
A.    Simpulan    
B.     Saran  Tindak Lanjut
DAFTAR PUSTAKA 
LAMPIRAN

Selasa, 31 Januari 2012

The School Library Role as a Learning Reference for Students

This research background is to describe the school library role as a learning reference for students at SMA N 1 Ngabang Kabupaten Landak in Bahasa Indonesia subject. Based on the analizing and some reviews about school library at this school. The writer conscludes as follows:

First, concerning with membership, there was 92,86% of the student stated that school library is needed for them. Besides 85,71% stated the importance to be school library members. 64,29% stated the members should be active. Therefors, the important point there, is student motivation in accessing school library. Both teacher and students there expressed that school library can be learning reference. In fact 45,71% of student have visited the library because of learning motivation. From the data, the writer concludes that school library at SMA N 1 Ngabang is good enough.

Second, concerning with visiting, 78,57% the students stated visiting library is useful in either for doing school tasks or increasing knowledge. And in fact there at least once a week students visit the library. As the result, the writer conscludes students visit the library is good.

Third, concerning with availabllity of references 71,43% at students stated, reference books for bahasa Indonesia was still unsufficient. And also 75,71% for others media was also unsufficient. However 64,29% expressed studying in the library was comfortable with a good service from the librarian.

Forth, concerning with students activities and attitudes, varius activities browsing books, reading, doing tasks, borrowing, and discussing. The data refers 58,29% of students intiated to acces library especially in bahasa Indonesia. In getting some subject mattens of their classroom tasks. Beside 51,43% of the students often reading and discussion in library. The writer consclude that the activities in the library for students at SMA N 1 Ngabang is positif good.

Fitth, concerning wit references utility of bahasa Indonesia 60% of students had high motivation, 77,14% stated the importance of accessing the library. 61,43% stated it is useful enough in using library. As the result, the writer has a consclusion for references utility as learning source. The libaray can guide positive attitude for students and increasei reading interest.

Selasa, 20 Desember 2011

KEPALA SEKOLAH KAITANNYA DENGAN PERKEMBANGAN TEKNOLOGI

Kata “kepala sekolah” tersusun dari dua kata yaitu “kepala” yang dapat diartikan ketua atau pemimpin dalam suatu organisasi atau sebuah lembaga, dan “sekolah” yaitu sebuah lembaga di mana menjadi tempat menerima dan memberi pembelajaran. Secara sederhana kepala sekolah dapat didefinisikan sebagai seseorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah di mana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat di mana terjadinya interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran.

Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Sebagaimana dikemukakan dalam Pasal 12 ayat 1 PP 28 tahun 1990 bahwa: “Kepala sekolah bertanggungjawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya, dan pendayagunaan serta pememliharaan sarana dan prasarana”.

Untuk menjawab tantangan dari pasal 12 ayat 1 PP 28 tahun 1990 tersebut seorang kepala sekolah harus bisa bekerja secara profesional, yang mana memiliki berbagai keterampilan. Karena keterampilan tersebut sebagai bekal dalam melaksanakan roda kepemimpinannya, diantaranya terampil dalam memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen sekolah, antara lain pertama, mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam mengurus administrasi sekolah. Kedua, mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komukasi dalam pembelajaran, baik sebagai sumber belajar maupun sebagai alat pembelajaran.

Harapan tersebut sebenarnya bisa terwujud jika pihak yang berkompeten dalam pengangkatan kepala sekolah benar-benar memperhatikan bagaimana seharusnya sosok seorang kepala sekolah, selain dia harus memiliki empat kompetensi. Namun banyak faktor penghambat tercapainya kualitas keprofesionalan kepala sekolah seperti proses pengangkatannya tidak trasnparan, rendahnya mental kepala sekolah yang ditandai dengan kurangnya motivasi dan semangat dalam melakukan tugas dan wawasan kepala sekolah yang masih sempit, serta tidak menguasai teknologi khususnya tentang pemanfaatan komputer sebagai alat yang membantu dalam bekerja untuk menyelesaikan administrasi.

Sehingga, yang terjadi dilapangan banyak kepala sekolah yang termasuk dalam kategori gaptek (gagap teknologi). Tentu saja, jika seorang kepala sekolah tidak memiliki keterampilan dalam memanfaatkan komputer hal ini akan mengganggu kelancaran administrasi di sekolah. Apalagi sekolah yang ditempati kepala sekolah tersebut termasuk dalam sekolah penyelenggara, otomatis administrasi yang dikerjakan cukup banyak terutama saat-saat menghadapi ujian sekolah maupun nasional. Hal seperti ini terjadi karena ketidakjelian pemerintah dalam menentukan siapa yang berhak menjadi kepala sekolah dan ditambah lagi dalam proses pengangkatan tidak melalui tes cakep (calon kepala). Selain itu, ada yang menjadi kepala sekolah karena ada hubungan keluarga dengan pejabat yang berwenang maupun sistem SDM (Siapa Dekat Maju).

Cara-cara seperti itu sebenarnya tidak perlu terjadi karena beban kerja seorang kepala sekolah cukup berat apalagi tingkat SD tidak memiliki TU (Tata Usaha) yang mengelola administrasi. Selain itu, administrasi yang harus diselesaikan begitu banyak salah satu contoh dalam pembuatan laporan BOS. Jika dalam membuat laporan BOS saja kepala sekolah sudah meminta orang lain yang membuatnya, bagaimana lagi dengan administrasi sekolah yang lain? Dan hal seperti ini banyak terjadi di lapangan karena kepala sekolahnya tidak tahu komputer. Yang namanya meminta bantuan orang untuk membuat laporan tidak bisa selesai dengan cepat dan akurat, pasti ada kelemahan-kelemahan yang terjadi, apakah kerapiannya, tata tulisnya maupun kesesuaian isi laporan. Maka tidak heran biasanya pada saat kepala sekolah mengantar laporan BOS ke dinas pendidikan untuk diperiksa, banyak yang dikembalikan untuk diperbaiki.

Jika hal-hal yang seperti dikemukakan sesudahnya masih saja terjadi, maka akan mengalami kesulitan dan bagaimana kualitas pendidikan? Apalagi pada 2013 seorang kepala sekolah harus melakukan penilaian kinerja, barang tentu hal tersebut menuntut keprofesionalan dalam membuat administrasinya dan alat yang bisa membantu, yaitu komputer. Oleh sebab itu, saya sarankan berpikir matang-matang sebelum mengambil jabatan sebagai kepala sekolah karena kerjaannya banyak sedangkan tunjangan yang diberikan pemerintah sangat-sangat kecil, sebagai contoh seorang kepala sekolah dasar cuma seratus ribu lebih. Sedangkan tuntutannya dia harus menyelesaikan sekian puluh administrasi bahkan ratusan lebih administrasi sekolah. Kalau di sekolah besar masih mendingan karena BOS bisa bantu, tetapi kalau di sekolah kecil tidak ada yang bisa bantu melainkan mengorek kantong sendiri. Karena ada pepatah yang mengungkapkan jika sudah menjadi kepala, “Biar tekor asal tersohor”.