Guruku... Alangkah besar pengabdianmu. Tanpa tanda jasa kau tetap setia mendidikku. Agar aku berguna bagi nusa dan bangsa.

Senin, 19 April 2010

Perkembangan Bahasa Anak

Asrori (2008:141) menjelaskan ada seorang ahli psikologi perkembangan dari Illinois State University bernama Laura E. Berk (1999) yang telah mempelajari dan meneliti berbagai aspek perkembangan individu, sampailah ia pada suatu kesimpulan bahwa perkembangan bahasa merupakan kemampuan yang khas manusia yang paling kompleks dan mengagumkan. Oleh sebab itulah, Perkembangan bahasa sebagai salah satu dari kemampuan dasar yang harus dimiliki anak, terdiri dari beberapa tahapan sesuai dengan usia dan karakteristik perkembangannya.
Perkembangan adalah suatu perubahan yang berlangsung seumur hidup an dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi seperti biologis, kognitif, dan sosio-emosional. Bahasa adalah suatu system simbol untuk berkomunikasi yang meliputi fonologi (unit suara), morfologi (unit arti), sintaksis (tata bahasa), semantik (variasi arti), dan pragmatik (penggunaan) bahasa (Santrock, 1995). Dengan bahasa anak dapat menyampaikan maksud, tujuan, pemikiran, maupun perasaannya pada orang lain.
Anak usia dini khususnya usia 4-5 tahun dapat mengembangkan kosakata secara mengagumkan. Owens (dalam Papalia et al, 1990) mengemukakan bahwa anak usia tersebut memperkaya kosakatanya melalui pengukangan. Mereka sering mengulangi kosakata yang baru dan unik sekalipun mungkin belum memahami artinya. Dalam mengembangkan kosakata anak menggunakan fast mapping, yaitu suatu proses di mana anak menyerap arti kata baru setelah mendengarnya sekali atau dua kali dalam percakapan. Pada masa kanak-kanak awal inilah anak mulai mengkombinasikan suku kata menjadi kata, dan kata menjadi kalimat.
Anak usia 4-5 tahun rata-rata dapat menggunakan 900 sampai 1000 kosakata yang berbeda. Mereka menggunakan 4-5 kata dalam satu kalimat yang dapat berbentuk kalimat pernyataan, negatif, tanya, dan perintah. Anak usia 4 tahun sudah mulai dapat menggunakan kalimat yang beralasan seperti ”ingin ikut mama ingin jalan-jalan”. Pada usia 5 tahun pembicaraan mereka mulai berkembang di mana kosakata yang digunakan lebih banyak dan rumit.

SUMBER BACAAN

Asrori, Mohammad. 2008. Psikologi Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima.

Asmawati, Luluk, dkk. 2008. Pengelolaan Kegiatan Pengembangan Anak Usia Dini. Jakarta: UT (Nama tidak dicantumkan karena hasil membaca disintesakan).

Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Pendekatan Contextual Teaching and Learning.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dari waktu ke waktu semakin pesat. Fenomena tersebut mengakibatkan adanya persaingan dalam berbagai bidang kehidupan, salah satu di antaranya bidang pendidikan. Untuk mencetak sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas diperlukan adanya peningkatan mutu pendidikan. Dalam hal ini keberhasilan pendidikan tak lepas dari peran sekolah, baik sekolah negeri maupun swasta. Menurut Darsono (2000) bahwa sekolah merupakan tempat pengembangan kurikulum formal, yang meliputi: (1) tujuan pelajaran umum dan khusus, (2) bahan pelajaran yang tersusun sistematis, (3) metode/strategi pembelajaran, dan (4) sistem evaluasi untuk mengetahui hingga mana tujuan tercapai.
Dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka tuntutan hidup pada masa globalisasi adalah adanya perubahan. Salah satu elemen yang perlu diubah untuk menjawab tantangan ke depan di lembaga pendidikan adalah kurikulum pendidikan nasional. KTSP jawabanya. Di dalam KTSP siswa dibekali tidak hanya untuk bisa bekerja, tetapi juga untuk bisa hidup. Sikap-sikap yang diperlukan untuk ini adalah keterbukaan, fleksibelitas, dan prinsip dasar hidup dalam konteks sosial.
Dengan banyaknya tantangan zaman dan perkembangan IPTEK, strategi pembelajaran memerlukan perubahan paradigma yakni dari teaching ke learning atau penggabungan keduanya, yaitu teaching and learning. Untuk itu diperlukan guru yang profesional.
Guru yang profesional adalah guru yang memiliki sepuluh kompetensi. Kesepuluh kompetensi itu adalah (1) menguasai bahan, (2) meneglola kelas, (3) mengelola program belajar-mengajar, (4) menggunakan media dan sumber, (5) mengelola interaksi belajar-mengajar, (6) menilai kemampuan siswa, (7) menguasai landasan kependidikan, (8) mengenal fungsi dan layanan BK, (9) mengenal administrasi sekolah, dan (10) memahami prinsip penelitian.
Yang perlu dicermati adalah adanya perbaikan manajemen pembelajaran. Hal ini dimaksudkan agar guru lebih bersikap kreatif, dapat menciptakan iklim kompetitif antarsiswa yang dibimbingnya, serta bertanggung jawab terhadap stakeholder pendidikan, khususnya orangtua siswa dan masyarakat. Dalam pelaksanaannya sekolah dan guru harus lebih terbuka, dapat mempertanggungjawabkan setiap kegiatannya (accountable), mengoptimalkan partisipasi orang tua dan masyarakat, dan dapat mengelola sumber daya yang tersedia di sekolah dan lingkungannya untuk meningkatkan prestasi siswa.
Keberhasilan tidak harus dilihat dari pencapaian nilai ujian nasional siswa yang tinggi semata, tetapi juga aspek lain. Hasil penelitian terakhir menunjukkan bahwa IQ hanya berperan 20% dalam mendongkrak keberhasilan seseorang di dalam hidupnya, justru “Kecakapan Emosional” (EQ) dan “Kecakapan Spiritual” (SQ) yang paling besar pengaruhnya sampai mencapai 80%. Hal ini berarti bahwa kecakapan lain seperti kemampuan menahan diri, mengendalikan emosi, memahami orang lain, memiliki mental untuk menerima kekalahan dan kegagalan, bersikap sabar, memiliki rasa syukur, memiliki motivasi diri yang tinggi, kreatif, berempati, dan bersikap toleran jauh lebih penting dimiliki siswa daripada sekedar nilai ujian nasional yang tinggi.
Salah satu metode pembelajaran yang sesuai adalah CTL (Contextual Teaching and Learning). Filosofi pembelajaran kontekstual berakar dari faham progresivisme John Dewey. Intinya siswa akan belajar dengan baik apabila apa yang mereka pelajari berhubungan dengan apa yang telah mereka ketahui serta proses belajar akan produktif jika siswa terlibat aktif dalam proses belajar di sekolah. Keaktifan siswa secara individu maupun dalam kelompok merupakan obsesi hak anak untuk bermain, bersosialisasi, dan belajar hidup selaras dengan lingkungannya.

SUMBER BACAAN

Depdiknas (2002). Pendekatan Kontekstual ; Contextual Teaching and Learning. Jakarta: Direktorat PLP.

http://pendidikanberkarakter.blogspot.com/2008/10/model-pembelajaran-kontekstual.html. Diakses pada 21 Nopember 2008. 10:46 PM.

http://pendidikansains.blogspot.com/2008/02/e-learning-merupakan-inovasi-pendidikan.html.

Rogers, Everett, M. 1983. Diffussion of Innovation. Canada: The Free Press of Macmillan Publishing Co.

Subandijah. 1992. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Yogyakarta: PT Raja Grafindo Persada-Yogyakarta.

Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran (Berorientasi Standar Proses Pendidikan). Jakarta: Kencana.

Minggu, 18 April 2010

Deskripsi Kawasan Teknologi Pembelajaran

Deskripsi Kawasan Teknologi Pembelajaran
1. Ranah Rancangan (Design)
Rancangan merupakan proses menspesifikasi kondisi-kondisi untuk belajar. Tujuan rancangan ialah untuk menciptakan strategi dan produk pada level makro, seperti program dan kurikulum, dan pada level mikro, seperti satuan pelajaran dan modul. Ranah rancangan mencakup studi tentang rancangan sistem pembelajaran (Instructional Systems Design) rancangan pesan (Message Design), strategi pembelajaran (Instructional Strategies), dan karakteristik pebelajar (Learner Characteristics).
Rancangan sistem pembelajaran (Instructional Systems Design/ISD) merupakan prosedur yag terorganisir yang mencakup langkah-langkah menganalisis, merancang, mengem-bangkan, melaksanakan dan menilai pembelajaran.
Rancangan pesan mencakup spesifikasi bentuk fisik pesan yang dimaksudkan untuk berkomunikasi antara pengirim dan penerima pesan.
Strategi pembelajaran adalah spesifikasi untuk menyeleksi dan mengurutkan peristiwa dan kegiatan dalam sebuah pembelajaran.
Karakteristik pebelajar adalah bagian-bagian pengalaman pebelajar yang berpengaruh pada efektivitas proses belajar.
2. Ranah Pengembangan
Ranah pengembangan ialah kawasan produksi media dan kemampuan media dalam menyampaikan juga telah membuat perubahan dalam ranah itu. Ranah pengembangan dapat diorganisasikan menjadi empat kategori: (1) teknologi cetak (yang menjadi dasar kategori lain), (2) teknologi audiovisual, (3) teknologi berbasis komputer, dan (4) teknologi terpadu.
Teknologi cetak adalah cara-cara untuk memproduksi atau menyebarkan materi, seperti buku dan materi visual statis, yang pada umumnya dilakukan melalui proses cetak mekanis atau fotografis.
Teknologi Audiovisual adalah cara untuk memproduksi atau menyebarkan materi dengan menggunakan mesin mekanis dan atau elektronis untuk menyajikan pesan auditori dan visual.
Teknologi berbasis komputer adalah cara untuk menghasilkan atau menyebarkan materi dengan menggunakan sumber-sumber yang didasarkan pada mikro prosessor.
Teknologi terpadu adalah cara-cara untuk memproduksi dan menyebarkan materi yang mengandung beberapa bentuk media dengan panduan komputer.
3. Ranah Pemanfaatan
Pemanfaatan adalah tindakan menggunakan proses dan sumber untuk belajar.
Pemanfaatan media (media Utilization) adalah pemanfaatan sumber-sumber belajar secara sistematis. Proses pemanfaatan media merupkan proses pembuatan keputusan yang didasarkan pada spesifikasi rancangan pembelajaran. Misalnya, bagaimana sebuah film diperkenalkan atau “ditindaklanjuti” haruslah berhubungan dengan tipe belajar yang dikehendaki.
Difusi inovasi adalah proses komunikasi melalui strategi yang terencana yang bertujuan untuk memperoleh adopsi. Tujuan utama difusi inovasi ialah membawa perubahan. Tahap pertama dalam proses ini meningkatkan kesadaran melalui diseminasi informasi. Proses itu mencakup tahap-tahap seperti kesadaran, minat, percobaan dan adopsi.
Implementasi dan Institusionalisasi. Implemen-tasi adalah pemanfaatan materi atau strategi pembelajaran dalam lingkungan sesungguhnya (tidak terstimulasi). Institusionalisasi adalah pemanfaatan inovasi pembelajaran secara terus menerus dan rutin dalam struktur dan kultur organisasi. Kedua konsep itu bergantung pada perubahan dalam individu dan perubahan dalam organisasi, tetapi tujuan implementasi ialah untuk menjamin adanya pemanfaatan secara benar oleh individu dalam organisasi. Tujuan institusionalisasi ialah untuk memadukan inovasi dalam struktur dan dalam kehidupan organisasi. Sebagian kegagalan masa lalu dalam proyek teknologi pembelajaran lebih menekankan pentingnya perencanaan untuk perubahan individu dan perubahan organisasi
Kebijakan dan pengaturan adalah kaidah-kaidah dan tindakan masyarakat yang mempengaruhi difusi dan pemanfaatan teknologi pembelajaran. Kebijakan dan aturan biasanya berkaitan dengan isu etis dan isu ekonomis. Keduanya diciptakan baik sebagai hasil tindakan dari luar bidang studi itu.
4. Ranah Pengelolaan
Konsep pengelolaan merupakan kesatuan integral dalam bidang Teknologi Pembelajaran dan dalam peranan yang banyak dimainkan oleh para Teknolog Pembelajaran.
Pengelolaan Proyek. Manajemen proyek melibatkan perencanaan, monitoring, pengontrolan rancangan pembelajaran dan proyek pengembangan.
Pengelolaan sumber (Resoure Management) melibatkan perencanaan, monitoring, dan pengontrolan sistem dukungan sumber daya dan layanannya. Pengelolaan sumber daya merupakan kajian yang kritis sebab pengelolaan ini juga mengontrol akses. Sumber termasuk personalia, anggaran, sarana, waktu, fasilitas, dan sumber pembelajaran.
Pengelolaan sistem penyampaian (delivery system pengelolaan) melibatkan perencanaan, monitoring dan pengontrolan “metode yang digunakan untuk mengorganisasikan distribusi materi pembelajaran (manajemen itu merupakan) paduan media dan metode pemanfaatan yang dilakukan untuk menyajikan informasi pembelajaran pada pebelajar.
Pengelolaan informasi (information management) melibatkan perencanaan, monitoring, pengontrolan penyimpanan, transfer dan pemrosesan informasi untuk memberikan sumber untuk belajar.
5. Ranah Penilaian
Penilaian adalah proses penentuan kesesuaian pebelajar dan belajar. Penilaian dimulai dengan analisis masalah. Analisis masalah merupakan langkah awal yang penting dalam pengembangan dan penilaian pembelajaran. Analisis masalah (problem analysis) melibatkan penentuan sifat dan parameter masalah dengan menggunakan strategi pemerolehan informasi dan strategi pembuatan keputusan. Dalam ranah penilaian dibedakan antara penilaian program, proyek dan produk.

Selasa, 06 April 2010

Perpustakaan dan Lingkungan Sekolah sebagai Sumber Belajar



Menurut Purwanto (2009) kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di satu pihak banyak memberikan kemudahan bagi manusia, tetapi di lain pihak juga membawa dampak dan permasalahannya sendiri. Ilmu dan teknologi komunikasi dengan segala produknya yang berkembang pesat akhir-akhir ini ikut mempercepat globalisasi dunia. Informasi dengan berbagai bentuknya yang dulu merupakan barang mahal dan susah didapat sekarang dengan mudah dan murah dapat diperoleh. Keadaan ini cenderung terus meningkat di waktu mendatang dan sebagian besar dari kita memang belum siap. Era industrialisasi saja belum sepenuhnya kita masuki, sekarang kita “dipaksa” memasuki era informasi. Mau tidak mau kita menghadapi era perdagangan bebas dan harus bersaing dengan bangsa lain.


Dalam pasal 1 Undang-Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa “pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. Dari apa yang terdapat dalam Undang-Undang RI tentang Sisdiknas tersebut jelaslah bahwa sumber belajar, di samping pendidik, mutlak diperlukan dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Hal ini disebabkan karena proses pembelajaran hanya akan berlangsung apabila terdapat interaksi antara peserta didik dengan sumber belajar dan pendidik.

Dengan kata lain tanpa sumber belajar, maka pembelajaran tidak mungkin dapat dilaksanakan dengan optimal. Tetapi peran pendidik tetap diperlukan, karena peran pendidik sangat diperlukan dalam memberikan motivasi, arahan, bimbingan, konseling, dan kemudahan (memfasilitasi) bagi berlangsungnya proses belajar dan pembelajaran yang dialami oleh peserta didik dalam keseluruhan proses pembelajaran. Sedang sumber belajar berperan dalam menyediakan berbagai informasi dan pengetahuan yang diperlukan dalam mengembangkan berbagai kompetensi yang diinginkan pada bidang studi atau mata pelajaran yang dipelajari.

Maka dari itu, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa pembangunan di bidang pendidikan adalah

upaya mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Depdiknas, UU No. 20 Th. 2003:Pasal 3).

Apalagi dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28c ayat 1 dan 2 sudah memberikan hak pada seseorang yang berbunyi bahwa setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan kehidupannya.

Oleh sebab itu, peningkatan mutu pendidikan menjadi kewajiban semua pihak yang terlibat dalam bidang pendidikan. Salah satu usaha dalam peningkatan mutu pendidikan adalah pemanfaatan perpustakaan dan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar. Karena kegiatan pembelajaran memerlukan interaksi dengan sumber belajar. Agar diperoleh hasil yang maksimal dengan tingkat interaksi yang tinggi, maka proses interaksi perlu dikembangkan secara sistematik.

Pengembangan proses interaksi dengan sumber belajar adalah merupakan suatu aktivitas dalam memanfaatkan sumber belajar. Aktivitas yang tinggi, hendaknya memanfaatkan sumber belajar yang tersedia secara optimal terutama sumber belajar perpustakaan dan lingkungan sekolah. Perpustakaan dan lingkungan sekolah diharapkan dapat menunjang kelancaran proses pembelajaran sehingga tujuan yang ditetapkan dapat tercapai. Pencapaian tujuan ini untuk pengembangan pribadi siswa baik dalam mendidik diri sendiri secara berkesinambungan dalam memecahkan segala masalah, mempertinggi sikap social, dan menciptakan masyarakat yang demokratis. Hal tersebut dipertegas oleh Ahmadi (2004:183) yang menyatakan bahwa :

Di sekolah, anak tidak hanya mempelajari pengetahuan dan keterampilan, melainkan juga sikap, nilai-nilai dan norma. Sebagian besar sikap dan nilai-nilai itu dipelajari secara informal melalui situasi formal di kelas dan di sekolah. Melalui contoh pribadi guru, isi cerita buku-buku bacaan, dan norma-norma masyarakat.

Sehingga pemanfaatan keberadaan perpustakaan dan lingkungan di sekolah sangat penting artinya, karena kegiatan pembelajaran di kelas pada umumnya bersifat terbatas dan kurang tuntas bahkan seringkali baru merupakan penggerak bagi perkembangan pembelajaran siswa. Apalagi perpustakaan dan lingkungan ini sumber belajar yang sudah tersedia, maka dari itu tinggal dimanfaatkan saja. Hal tersebut didukung oleh pendapat Wahyudiati (2008) yang mengatakan keberadaan perpustakaan sekolah di suatu sekolah adalah sangat penting. Ibarat tubuh manusia, perpustakaan adalah organ jantung yang bertugas memompa darah ke seluruh tubuh. Bahkan karena sangat pentingnya keberadaan perpustakaan sekolah ini, pemerintah mencanangkan bulan September sebagai bulan gemar membaca dan hari kunjung perpustakaan.

Perpustakaan dan penataan lingkungan sekolah dibangun dengan biaya yang besar. Oleh sebab itu, sayang apabila kedua sumber belajar ini tidak dimanfaatkan dengan baik oleh siswa dan guru untuk pembelajaran. Karena menurut pengamatan dan hemat penulis kadang-kadang guru hanya berperan sebagai satu-satunya sumber belajar yang paling dominan dalam proses pembelajaran tersebut. Hal ini seringkali berakibat menjadikan proses pembelajaran, oleh guru bersifat verbalistis, karena guru sangat dominan menggunakan lambang verbal dalam melaksanakan proses pembelajaran yang umumnya dilakukan melalui penggunaan metode ceramah. Begitu dominannya guru dalam melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah tersebut, sehingga menyebabkan guru kurang mempunyai waktu untuk memberikan bimbingan dan bantuan dalam rangka memberikan kemudahan bagi pebelajar dalam kegiatan pembelajaran.

Pada hal menurut Sanjaya (2008:137) bahwa :

Dalam pembelajaran sebaiknya menekankan kepada aktivitas siswa secara optimal untuk memperoleh hasil belajar berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang. Karena pembelajaran tidak menghendaki pembentukan siswa yang secara intelektual cerdas tanpa diimbangi oleh sikap dan keterampilan. Tetapi yang diharapkan siswa yang cerdas sekaligus siswa yang memiliki sikap positif dan secara motorik terampil, misalnya kemampuan mengamati, kemampuan untuk menemukan, menganalisis, dan mengkomunikasikan hasil penemuannya.

Kasus guru yang hanya verbalistik tadi terjadi karena sumber belajar yang beraneka ragam di sekitar lingkungan sekolah, baik yang didesain maupun non desain belum dimanfaatkan secara optimal dalam pembelajaran. Ditambah lagi sebagian besar guru kecenderugan dalam pembelajaran memanfaatkan buku teks dan guru sebagai sumber belajar utama. Pernyataan ini diperkuat oleh Parcepal dan Ellington (1984) dalam Karwono (2007), bahwa dari sekian banyaknya sumber belajar hanya buku teks yang banyak dimanfaatkan. Selanjutnya hal senada juga diungkapkan melalui hasil penelitian para dosen IKIP Semarang dalam Karwono (2007) mengenai kebutuhan informasi, yang menyatakan bahwa

banyak sumber belajar diperpustakaan dan lingkungan yang belum dikenal dan belum diketahui penggunaannya. Keadaan ini diperparah pemanfaatan buku sebagai sumber belajar juga masih bergantung pada kehadiran guru, kalau guru tidak hadir maka sumber belajar lain termasuk bukupun tidak dapat dimanfaatkan oleh peserta didik. Oleh karena itu kehadiran guru secara fisik mutlak diperlukan, di sisi lain sebenarnya banyak sumber belajar disekitar kehidupan peserta didik yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran.

Sebagai mana yang penulis ketahui bahwa para siswa dalam melakukan aktivitas belajar memerlukan adanya dorongan tertentu agar kegiatan belajarnya dapat menghasilkan prestasi belajar yang sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Untuk dapat meningkatkan prestasi belajar siswa yang maksimal, tentunya perlu diperhatikan berbagai faktor yang membangkitkan para siswa untuk belajar dengan efektif. Salah satu faktor penyebab yang mempengaruhinya adalah pemanfaatan sumber belajar yang bervariasi oleh guru. Oleh karena itu, alternative yang bisa dilakukan, yaitu pemanfaatan perpustakaan dan lingkungan selain buku dan guru itu sendiri.

Karena menurut hemat penulis, perpustakaan dan lingkungan merupakan dua hal penunjang keberhasilan pembelajaran, walaupun itu, tidak secara langsung. Karena berdasarkan pengalaman penulis selama mengajar di Tunas Bangsa yang mana mempunyai program dalam setiap minggu siswa selalu diajak belajar di luar kelas dan mengunjung perpustakaan. Ternyata penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran meningkat. Dan siswa menunjukkan sikap yang positif terhadap pelajaran tersebut, dalam arti menyukainya. Memang selain perpustakaan dan lingkungan, perlu diingat bahwa kualitas dan aktivitas guru juga turut menjadi penunjang keberhasilan pembelajara, karena dengan kualitas dan aktivitas guru yang baik, maka proses pembelajaran akan terlaksana sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.

Apalagi sekarang sudah ada Standar Sarana dan Prasarana yang dikembangkan oleh BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri Nomor 24 Tahun 2007, yang garis besarnya antara lain :

1. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

2. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan, satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolah raga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

3. Standar keragaman jenis peralatan laboratorium ilmu pengetahuan alam (IPA), laboratorium bahasa, laboratorium komputer, dan peralatan pembelajaran lain pada satuan pendidikan dinyatakan dalam daftar yang berisi jenis minimal peralatan yang harus tersedia. Standar jumlah peralatan di atas, dinyatakan dalam rasio minimal jumlah peralatan perpeserta didik.

Rabu, 11 Maret 2009

CARA-CARA UNTUK MENCARI TAHU, TEKNIK PENGUMPULAN DATA, DAN LAPORAN PENELITIAN

1. CARA UNTUK MENCARI TAHU
Dalam mencari tahu ada dua cara, yaitu secara kuantitatif dan kualitatif. Dengan cara kuantitatif bisa melalui eksperimen dan non-eksperimen. Kalau penelitian kuantitatif melalui eksperimen ada beberapa cara, antara lain :
a. True Experimental
Yaitu pemberian tugas acak terhadap kelompok yang berbeda karakter unik. Dalam true experimental setiap subjek punya kesempatan atau peluang untuk diujikan pada setiap kelompok. Tidak ada perbedaan subjek dalam tiap kelompok.
Contoh : Ada sebuah lahan pertanian, yang lahan tersebut dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian A dan bagian B. Lahan A dan B ini terletak pada lahan yang sama. Pada lahan ini diberi pupuk secara acak, tetapi memiliki curah hujan yang sama, memiliki hama yang sama, dan faktor lainnya.
b. Quasi-experimental
Quasi-experimental hampir sama dengan true experimental tetapi quasi-experimental tidak acak. Tujuannya untuk mengetahui efek dan penyebab dari satu kondisi.
c. Single Subject
Dalam penelitian single subject, penelitian tidak difokuskan terhadap satu kelompok, tetapi lebih ditekankan pada satu subject bukan kelompok. Dalam penelitian single subject ini tidak dilakukan secara acak. Penelitian single subject biasa untuk melihat perubahan perilaku.

Kalau penelitian kuantitatif melalui non-eksperimen ada beberapa cara, antara lain :
a. Descriptive
Penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang menjelaskan fenomena yang terjadi untuk menggambarkan karakter suatu individu atau kelompok. Untuk mengetahui nilai variabel satu dengan variabel lain dan menjawab pertanyaan sendiri (bagaimana, berapa).

b. Comparative
Komparatif merupakan suatu cara untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan antara dua fenomena atau lebih. Dalam komparatif ini tidak ada manipulasi kondisi dan sikap. Untuk mengetahui perbandingan antara satu dgn lain.
Contoh : Perbedaan Profit BUMN dengan perusahaan swasta.

c. Correlational
Penelitian korelasi merupakan penelitian untuk mencari hubungan antara dua atau lebih fenomena. Dalam korelasi ini terdapat, korelasi positif dan korelasi negatif. Dalam korelasi positif fenomena-fenomena tersebut memiliki hubungan yang kuat. Misalnya, hubungan antara berat dan tinggi serta skor IQ dengan pemerolehan skor. Korelasi negatif antara fenomena-fenomena tersebut memiliki hubungan yang tidak kuat. Misalnya, hubungan antara absen sekolah dengan prestasi sekolah.

d. Survey
Penelitian survey ini sering digunakan dalam penelitian di bidang pendidikan untuk menjelaskan perilaku, keyakinan, opini, atau yang berkaitan dengan informasi. Penelitian ini didesain sedemikian rupa sehingga informasi mengenai populasi dapat diketahui dari respon yang diberikan oleh sample (kelompok kecil subjek penelitian).
Contoh : Kecenderungan masyarakat konsumsi makanan

e. Ex post facto
Digunakan untuk mengetahui hubungan sebab-akibat yang mungkin terjadi antara beberapa variabel yang tidak dapat dimanipulasi oleh peneliti. Beberapa sebab tersebut akan dipelajari setelah terjadinya akibat. Meneliti peristiwa yg terjadi dan merunut ke belakang u/ mengetahui
faktor yg mempengaruhinya
Contoh : Peristiwa kebakaran, Flu Burung.

Selanjutnya dalam penelitian kualitatif juga terdapat dua cara, yaitu cara interaktif dan non-interaktif.
a. Interactive Inquiry
Dalam penelitian interactive inquiry, penelitian dilakukan lebih dalam melalui teknik tatap muka (melalui interview) dengan subjek penelitian dengan tujuan untuk mengumpulkan data dari orang-orang dalam pengaturan yang alami atau tidak dimanipulasi. Dalam model interaktif terdapat beberapa cara, antara lain :
1. Ethnographic
Penjelasan atau interpretasi terhadap suatu kultur (budaya), kelompok sosial, atau sistem.
2. Phenomenologic
Mencakup filosofi atau pandangan sains dan cara untuk mengetahui sesuatu (inquiry). Tujuan dari fenomenologi adalah untuk mengubah bentuk pengalaman ke dalam suatu uraian tentang inti sari sehingga pengaruh dari pengalaman tersebut akan menghasilkan sesuatu yang penuh makna.
3. Case Study
studi kasus merupakan suatu metode untuk mempelajari keadaan perkembangan seorang murid secara mendalam dengan tujuan membantu murid untuk mencapai penyesuaian diri yang lebih baik.
Studi kasus ini mendalam dan mendetail, maka studi kasus menghasilkan gambaran yang jelas tentang pengumpulan data dan analisis data yang dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Untuk itu kasus dapat terbatas pada satu orang, satu lembaga, satu keluarga, satu peristiwa atau satu masyarakat (satu kelompok masyarakat). Dalam studi kasus segala aspek yang menyebabkan terjadinya suatu masalah mendapat perhatian yang serius dari peneliti.
4. Grounded Theory
Digunakan untuk mengembangkan suatu konsep secara detail.
5. Critical Studies
Gaya dari pemeriksaan ini mengambil dari teori kritis, teori pejuang hak wanita, dan postmodern perspektif, yang berasumsi bahwa pengetahuan adalah subjektif. Peneliti-peneliti kritis bersifat curiga dari kebanyakan gaya-gaya dari pemeriksaan untuk mengabaikan hubungan daya tersembunyi dalam teknik-teknik pengumpulan data. Sebagian besar kritik riset kualitatif tradisional ditempatkan di dalam analisa yang naratif, riset di bidang ilmu, etnografi kritis, participatory riset di bidang ilmu, dan riset pejuang hak wanita. Studi-studi kritis mulai dengan suatu kesanggupan untuk mengungkapkan; menyingkapkan manipulasi dan tekanan sosial dan untuk mengubah struktur-struktur sosial.

b. Non-interactie Inquiry
Dalam non-interactive inquiry terdapat dua cara, yaitu consept analysis dan historical analysis.
1. Consept Analysis
Studi mengenai konsep pendidikan seperti pembelajaran kooperatif atau kepemimpinan dengan pengambaran maksud yang berbeda dan menggunakan konsep yang sesuai.
2. Historical Analysis
Historical analysis biasanya digunakan dalam studi program pendidikan, praktik-praktik, institusi, orang-orang, dan polisi-polisi.

2. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Dalam penelitian kuantitatif ada beberapa cara untuk mengumpulkan data, antara lain :
a. Observasi
Observasi langsung adalah suatu cara mengumpul data di mana peneliti mengadakan pengamatan langsung terhadap abjek kasus.
b. Interview
Interview adalah suatu cara pengumpulan data dengan cara berdialog antar peneliti dengan subjek kasus. Dalam interview alat yang dipakai adalah wawancara. Agar wawancara tepat sasaran, maka sebelum mengadakan interview atau wawancara disusunlah panduan wawancara.
c. Kuesioner
Kumpulan lembaran pertanyaan yang harus dijawab oleh koresponden sehingga diperolehlah data.
d. Alternative Assessment
Salah satu alternatif penilaian ádalah penampilan dasar seperti: membuat naskah pidato, menulis artikel, membuat presentasi musik, demontrasi, penampilan kemampuan atletik, dan Project lainnya.
e. Paper and Pencil Test
Dalam paper and pencil test ini biasanya dalam bentuk pilihan ganda, menjodohkan, pilihan benar atau salah, dan melengkapi.

Selanjutnya dalam penelitian kualitatif ada beberapa cara untuk mengumpulkan data, antara lain :
a. Participant Observation
Pengamatan peserta adalah satu teknik yang interaktip "mengambil bagian" sampai taraf tertentu secara alami untuk menguraikan apa yang terjadi.
b. Field Observation
Adalah mengambarkan secara mendetail mengenai orang, tindakan-tindakan, dan objek yang terdapat di lapangan. Dalam observasi lapangan menggunakan pengumpulan data interaktif seperti pengamatan peserta dan wawancara secara mendalam.
c. In-depth Interview
Wawancara sering digunakan dalam penelitian. Dalam wawancara hal yang biasa harus fokus pada permasalahan.
d. Documents and Artifacts
Kumpulan peristiwa dalam bentuk tulisan atau cetakan, mungkin juga dalam bentuk catatan-catatan, surat-surat, diari, dan dokumen-dokumen.
e. Supplementary Techniques
Adalah pilihan tindakan untuk membantu dalam interpretasi, meneliti, atau penguatan data yang diperoleh dari pengamatan peserta, wawancara, dokumen-dokumen, dan artifak-artifak.

3. LAPORAN PENELITIAN
Untuk penelitian kuantitatif susunannya, sebagai berikut :
· Abstract (ringkasan atau intisari)
· Introduction (kata pengantar)
· Research Problem (masalah penelitian)
· Review of Literature (kajian pustaka)
· Research Hipótesis or Question (hipótesis penelitian)
· Methodology (metodologi)
· Results (analisis data / hasil)
· Discussión and Conclusions (pembahasan dan kesimpulan)
· Referentes (daftar pustaka)
Untuk penelitian kualitatif susunannya, sebagai berikut :
· Introduction (kata pengantar)
· Methodology (metodologi)
· Findings and Interpretations (penemuan dan interpretasi)
· Conclusions (kesimpulan)
· Referentes (daftar pustaka)

PENGERTIAN KURIKULUM

Hilda Taba: Kurikulum adalah sebuah rancangan pembelajaran, yang disusun dengan mempertimbangkan berbagai hal mengenai proses pembelajaran serta perkembangan individu.

Daniel Tanner & Laurel Tanner : Pengalaman pembelajaran yang terencana dan terarah, yang disusun melalui proses rekonstruksi pengetahuan dan pengalaman yang sistematis di bawah pengawasan lembaga pendidikan agar pembelajar dapat terus memiliki minat untuk belajar sebagai bagian dari kompetensi sosial pribadinya.

Romine : Kurikulum mencakup semua temu permbelajaran, aktivitas dan pengalaman yang diikuti oleh anak didik dengan arahan dari sekolah baik di dalam maupun di luar kelas.

Murray Print : Kurikum didefinisikan sebagai semua ruang pembelajaran terencana yang diberikan kepada siswa oleh lembaga pendidikan dan pengalaman yang dinikmati oleh siswa saat kurikulum itu terapkan.

Saylor-Oliva: Kurikulum sebagai sesuatu yang diajarkan, sementara instruksi sebagai sarana untuk mengajarkan sesuatu itu. Secara sederhana, kurikulum berarti “apa” yang diajarkan dan pengajaran/instruksi adalah “bagaimana” mengajarakannya.

J.Wiles & J.Bondi (1989) : The curriculum is a goal or a set of values, which are activated through a development for students. The degree to which those experiences are a true representation of the envisioned goal or goals is a direct function of the effectiveness of the curriculum development efforts. (Kurikulum ialah seperangkat nilai-nilai, yang digerakkan melalui suatu pengembangan proses kulminasi dalam pengalaman-pengalaman di kelas untuk murid-murid.

M. Skilbeck (1984) : The learning experiences of students, in so far as they are expressed or anticipated in goals and objectivies, plans and designs for learning and implementation of these plans and design in school environments. (pengalaman-pengalaman murid yang diekspresikan dan diantisipasikan dalam cita-cita dan tujuan-tujuan, rencana-rencana dan desain-desain untuk belajar dan implementasi dari rencana-rencana dan desain-desain tersebut di lingkungan sekolah.

Akta Pendidikan 1996 [Peraturan-peraturan (Kurikulum Kebangsaan) Pendidikan 1997] : “… suatu program pendidikan yang termasuk kurikulum dan kegiatan kokurikulum yang merangkumi semua pengetahuan, kemahiran, norma, nilai, unsure kebudayaan dan kepercayaan untuk membantu perkembangan seseorang murid dengan sepenuhnya dari segi jasmani, rohani, mental dan emosi serta untuk menanam dan mempertingkatkan nilai moral yang diingini dan untuk menyampaikan pengetahuan”

Depertemen Pendidikan Nasional (UNDANG–UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL) : Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Kliebard, 1982 : Kurikulum’ dalam bahasa Latin mempunyai kata akar ‘curere’. Kata ini bermaksud ‘laluan’ atau ‘jejak’. Secara yang lebih luas pula maksudnya ialah ‘jurusan’ seperti dalam rangkai kata jurusan peperangan’. Perkataan’kurikulum’ dalam bahasa Inggris mengandungi pengertian ‘jelmaan’ atau ‘metamorfosis’. Paduan makna kedua-dua bahasa ini menghasilkan makna bahawa perkataan kurikuluin’ ialah ‘laluan dan satu peringkat ke satu peningkat’. Perluasan makna ini memberikan pengertian ‘kurikulum’ dalam perbendaharaan kata pendidikan bahasa Inggeris sebagai jurusan pengajian yang diikuti di sekolah.

Grayson 1997 : Kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (out7 comes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran.Perencanaan tersebut disusun secara terstrukturuntuk suatu bidang studi, sehingga memberikan pedoman dan instruksi untuk mengembangkan strategi pembelajaran (Materi di dalam kurikulum harus diorganisasikan dengan baik agar sasaran (goals) dan tujuan (objectives) pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai.

Harsono, 2005 : Kurikulum merupakan gagasan pendidikan yang diekpresikan dalam praktik. Dalam bahasa latin, kurikulum berarti track atau jalur pacu. Saat ini definisi kurikulum semakin berkembang, sehingga yang dimaksud kurikulum tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk seluruh program pembelajaran yang terencana dari suatu institusi pendidikan.

John Dewey 1902;5 : dalam bukunya ‘The Child and The Curriculum’ kurikulum dapat diartikan sebagai pengajian di sekolah dengan mengambil kira kandungan dari masa lampau hingga masa kini. Pembentukan kurikulum menekankan kepetingn dan keperluan masyarakat.

Frank Bobbit 1918 :dalam buku ‘The Curriculum’ Kurikulum dapat diartikan keseluruhan pengalaman, yang tak terarah dan terarah, terumpu kepada perkembangan kebolehan individu atau satu siri latihan pengalaman langsung secara sedar digunakan oleh sekolah untuk melengkap dan menyempurnakan pendedahannya. Konsep beliau menekankan kepada pemupukan perkembangan individu melalui segala pengalaman termasuk pengalaman yang dirancangkan oleh sekolah.

B. Bara, Ch (2008) : kurikulum adalah suatu teknik/cara yang digunakan dalam penyampaian seluruh isi materi ajar secara urut, terstruktur dan berkesinambungan sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan pembelajaran.

Beane dkk, 1986 : Kurikulum yakni bahwa konsep kurikulum dapat diklasifikasikan ke dalam empat jenis pengertian yang meliputi: (1) kurikulum sebagai produk; (2) kurikulum sebagai program; (3) kurikulum sebagai hasil yang diinginkan: dan (4) kurikulum sebagai pengalaman belajar bagi peserta didik.

J. Gallen Saylor dan William Alexander : Kurikulum adalah segala usaha sekolah untuk mempengaruhi anak itu belajar, apakah dalam ruangan kelas, dihalaman sekolah atau diluar sekolah.

Harold B. Alberty cs : Kurikulum adalah segala kegiatan yang disajikan oleh sekolah bagi para pelajar, tidak ada pembatasan antara kegiatan di dalam kelas dengan di luar kelas.

B. Oythanel Smith, WO Satanley dan J. Harlan Shores : Kurikulum adalah sejumlah pengalaman yang secara potensial dapat diberikan kepada anak, yang diperlukan agar mereka dapat berpikir dan berkelakuan sesuai dengan masyarakatnya.

J. Lloyd Trump dan Delmas F. Miller : Kurikulum iyu lebih luas dari pada hanya bahan pelajaran, juga termasuk metode belajar dan mengajar, cara mengevaluasi kemajuan murid dan seluruh program, perubahan dalam tenaga pengajar, bimbingan dan penyuluhan, supervisi dan administrasi dan hal-hal struktural mengenai waktu, jumlah, ruangan, uang serta kemungkinan adanya pilihan mata pelajaran.

Alice Miel : Kurikulum juga meliputi gedung, suasana sekolah, keingiinan, keyakinan, pengetahuan dan sikap orang-orang yang meladeni dan diladeni sekolah, yakni anak didik, masyarakat, para pendidik dan personalia.

Edward A Krug : Kurikulum terdiri atas cara-cara dan usaha-usaha yang digunakan untuk mencapai tujuan persekolahan.

MEMBANGUN MOTIVASI BELAJAR SISWA

Seiring dengan pergeseran makna pembelajaran, dari pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher oriented) ke pembelajaran yang berorientasi kepada siswa (student oriented), maka peran guru dalam proses pembelajaran pun mengalami pergeseran, salah satunya adalah penguatan peran guru sebagai motivator dan kreator.

Keberadaan seorang guru dalam suatu sekolah tidaklah dapat disangka lagi, karena tanpa guru sekolah tidak akan dapat melaksanakan proses pembelajaran. Namun peran guru tidaklah hanya berhenti sebagai pengajar yang melakukan transfer ilmu saja, karena tanpa adanya peran sebagai motivator maka sia-sialah peran guru sebagai sosok yang melakukan transfer ilmu.
Salah satu indikator keberhasilan pendidikan secara mikro di tataran pembelajaran level kelas adalah tatkala seorang guru mampu membangun motivasi belajar para siswanya. Jika siswa-siswa itu dapat ditumbuhkan motivasi belajarnya, maka sesulit apa pun materi pelajaran atau proses pembelajaran yang diikutinya niscaya mereka akan menjalaninya dengan "enjoy".
Motivasi belajar dapat meningkat apabila guru membangkitkan minat siswa, memelihara rasa ingin tahu mereka, menggunakan berbagai macam strategi pembelajaran, menyatakan harapan dengan jelas, dan memberikan umpan balik (feed back) dengan sering dan segera.

Menumbuhkan motivasi belajar intrinsik sekaligus memberikan motivasi belajar intrinsik pada anak, bisa melalui cara-cara berikut ini :
1. Meluangkan waktu untuk menemani anak belajar.
2. Memberikan penghargaan pada setiap usaha yang dilakukan anak untuk belajar.
3. Memberikan hukuman yang mengandung pelajaran.
4. Mendengarkan keluh kesah anak mengenai kegiatan belajar yang dilakukannya.
5. Memberi perhatian pada hal-hal yang dilakukan anak pada saat ia belajar.
6. Menghargai setiap perkembangan yang berhasil dicapai anak dalam kegiatan belajarnya, sekecil apa pun perkembangan itu.

Hal sejalan juga dikemukakan oleh, Wina Senjaya (2008) dalam bukunya yang berjudul Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Dia mengemukakan bahwa ada tujuh petunjuk umum yang bisa digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, antara lain :
1. Memperjelas tujuan yang ingin dicapai
Tujuan yang jelas dapat membuat siswa paham ke arah mana ia ingin dibawa. Pemahaman siswa tentang tujuan pembelajaran dapat menumbuhkan minat siswa untuk belajar yang pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi belajar mereka.
2. Membangkitkan minat siswa
Siswa akan terdorong untuk belajar manakala mereka memiliki minat untuk belajar. Oleh sebab itu, mengembangkan minat belajar siswa merupakan salah satu teknik dalam mengembangkan motivasi belajar, dengan cara hubungkan bahan pelajaran yang akan diajarkan dengan kebutuhan siswa (berkaitan dengan life skill).
3. Ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar
Siswa hanya mungkin dapat belajar dengan baik manakala ada dalam suasana yang menyenangkan, merasa aman, bebas dari rasa takut.
4. Berilah pujian yang wajar terhadap setiap keberhasilan siswa
Motivasi akan tumbuh manakala siswa merasa dihargai. Memberikan pujian yang wajar merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memberikan penghargaan.
5. Berikan penilaian
Bagi sebagian siswa nilai dapat menjadi motivasi yang kuat untuk belajar. Oleh karena itu, penilaian harus dilakukan dengan segera agar siswa secepat mungkin mengetahui hasil kerjanya.
6. Berilah komentar terhadap hasil pekerjaan siswa
Komentar yang positif dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
7. Ciptakan persaingan dan kerja sama
Guru harus mendesain pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk bersaing baik antara kelompok maupun antarindividu. Melalui persaingan siswa dimungkinkan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh hasil yang terbaik.

Jadi kesimpulannya apabila guru bisa menjadi motivator yang baik bagi siswanya, maka akan timbul berbagai hal dalam diri siswa, antara lain :
1. Timbulnya keinginan pada siswa untuk lebih menekuni materi yang dipelajarinya.
2. Adanya keinginan yang kuat dalam diri siswa untuk pergi ke sekolah.
3. Rasa memiliki sekolah akan timbul bila siswa merasa bahwa sekolahnya adalah suatu tempat yang menyenangkan.