Rabu, 11 Maret 2009
MEMBANGUN MOTIVASI BELAJAR SISWA
Keberadaan seorang guru dalam suatu sekolah tidaklah dapat disangka lagi, karena tanpa guru sekolah tidak akan dapat melaksanakan proses pembelajaran. Namun peran guru tidaklah hanya berhenti sebagai pengajar yang melakukan transfer ilmu saja, karena tanpa adanya peran sebagai motivator maka sia-sialah peran guru sebagai sosok yang melakukan transfer ilmu.
Salah satu indikator keberhasilan pendidikan secara mikro di tataran pembelajaran level kelas adalah tatkala seorang guru mampu membangun motivasi belajar para siswanya. Jika siswa-siswa itu dapat ditumbuhkan motivasi belajarnya, maka sesulit apa pun materi pelajaran atau proses pembelajaran yang diikutinya niscaya mereka akan menjalaninya dengan "enjoy".
Motivasi belajar dapat meningkat apabila guru membangkitkan minat siswa, memelihara rasa ingin tahu mereka, menggunakan berbagai macam strategi pembelajaran, menyatakan harapan dengan jelas, dan memberikan umpan balik (feed back) dengan sering dan segera.
Menumbuhkan motivasi belajar intrinsik sekaligus memberikan motivasi belajar intrinsik pada anak, bisa melalui cara-cara berikut ini :
1. Meluangkan waktu untuk menemani anak belajar.
2. Memberikan penghargaan pada setiap usaha yang dilakukan anak untuk belajar.
3. Memberikan hukuman yang mengandung pelajaran.
4. Mendengarkan keluh kesah anak mengenai kegiatan belajar yang dilakukannya.
5. Memberi perhatian pada hal-hal yang dilakukan anak pada saat ia belajar.
6. Menghargai setiap perkembangan yang berhasil dicapai anak dalam kegiatan belajarnya, sekecil apa pun perkembangan itu.
Hal sejalan juga dikemukakan oleh, Wina Senjaya (2008) dalam bukunya yang berjudul Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Dia mengemukakan bahwa ada tujuh petunjuk umum yang bisa digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, antara lain :
1. Memperjelas tujuan yang ingin dicapai
Tujuan yang jelas dapat membuat siswa paham ke arah mana ia ingin dibawa. Pemahaman siswa tentang tujuan pembelajaran dapat menumbuhkan minat siswa untuk belajar yang pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi belajar mereka.
2. Membangkitkan minat siswa
Siswa akan terdorong untuk belajar manakala mereka memiliki minat untuk belajar. Oleh sebab itu, mengembangkan minat belajar siswa merupakan salah satu teknik dalam mengembangkan motivasi belajar, dengan cara hubungkan bahan pelajaran yang akan diajarkan dengan kebutuhan siswa (berkaitan dengan life skill).
3. Ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar
Siswa hanya mungkin dapat belajar dengan baik manakala ada dalam suasana yang menyenangkan, merasa aman, bebas dari rasa takut.
4. Berilah pujian yang wajar terhadap setiap keberhasilan siswa
Motivasi akan tumbuh manakala siswa merasa dihargai. Memberikan pujian yang wajar merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memberikan penghargaan.
5. Berikan penilaian
Bagi sebagian siswa nilai dapat menjadi motivasi yang kuat untuk belajar. Oleh karena itu, penilaian harus dilakukan dengan segera agar siswa secepat mungkin mengetahui hasil kerjanya.
6. Berilah komentar terhadap hasil pekerjaan siswa
Komentar yang positif dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
7. Ciptakan persaingan dan kerja sama
Guru harus mendesain pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk bersaing baik antara kelompok maupun antarindividu. Melalui persaingan siswa dimungkinkan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh hasil yang terbaik.
Jadi kesimpulannya apabila guru bisa menjadi motivator yang baik bagi siswanya, maka akan timbul berbagai hal dalam diri siswa, antara lain :
1. Timbulnya keinginan pada siswa untuk lebih menekuni materi yang dipelajarinya.
2. Adanya keinginan yang kuat dalam diri siswa untuk pergi ke sekolah.
3. Rasa memiliki sekolah akan timbul bila siswa merasa bahwa sekolahnya adalah suatu tempat yang menyenangkan.
Kamis, 28 Agustus 2008
MAKHLUK ALLAH YANG SEMPURNA
Manusia jika dibandingkan dengan makhluk ciptaan Allah yang lain, manusia mempunyai derajat yang tinggi daripada makhluk-makhluk lainnya, karena memang manusia itu memiliki kemampuan berfikir yang berbeda dibandingkan dengan makhluk yang lainnya sebab dalam diri manusia terdapat berbagai potensi seperti pengetahuan, keterampilan, dan keahlian. Untuk itu sebagai makhluk sosial ia selalu memikirkan penyempurnaan dalam melaksanakan aktifitas-aktifitas yang didorong oleh nalurinya.
Berbekal karunia yang telah diberikan Allah SWT, manusia sebenarnya berpotensi menjadi makhluk berintelektual tinggi. Oleh karena itu, sebagai wujud syukur dan terima kasihnya kepada Tuhan, mereka seharusnya memiliki akhlak yang mulia, misalnya : rajin dalam beribadah, santun terhadap orang tua, baik sesama, suka menolong orang lain yang berada dalam kesusahan, rajin mencari ilmu, dan rajin dalam bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sesuai dengan pepatah orang tua. Carilah rejeki sebanyak mungkin seolah-olah engkau hidup seribu tahun lagi. Berbuat baik dan beridahlah engkau pada Allah seolah-olah besok hari engkau akan meninggal. Golongan orang-orang yang disebutkan tadi sangat dicintai oleh Allah SWT.
Kenyataannya yang dilihat apabila diamati dengan seksama perillaku manusia saat ini, yang terjadi justru sebaliknya. Banyak diantara mereka yang berilmu tinggi tetapi kualitas akhlaknya kurang. Apabila kondisi ini dibiarkan berlangsung terus menerus, bukan peningkatan kualitas yang didapat tetapi sumber manusia tersebut malah akan menjadi beban pembangunan bangsa di masa yang akan datang.
Oleh karena itu, kualitas sumber daya manusia hanya bisa diamati dari usaha manusia tersebut dalam mengerahkan segala potensi dan kemampuan yang dimiliki sehingga bermanfaat untuk dirinya dan bermanfaat untuk orang lain. Usaha dari seseorang ini sangat dihargai dalam pandangan Islam. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang berbunyi : “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang gigih (dalam berusaha) dan teguh dalam berdo’a” ( H.R. Thabrani dan Baihaqi ). Fuad Hasan (1992:172) mengatakan bahwa mutu sumber daya manusia bukan semata-mata ditentukan oleh seberapa kadar pengetahuan, keterampilan, kemahiran, dan keahlian yang dikuasai dan bisa menjadi penunjang kesanggupannya, melainkan harus disertai oleh sikap yang baik dan orientasi untuk tampil produktif dan prestatif.
Nabi Muhammad Saw berpesan kepada umatnya tentang keutamaan memiliki ilmu melalui sabdanya yang berbunyi :
“Barang siapa yang mencari jalan agar dia dapat memperoleh ilmu, maka Allah memudahkan jalan baginya untuk menuju ke Surga, sesungguhnya keutamaan orang alim atas ahli ibadah, seperti keutamaan malam bulan purnama atas semua bintang”.
Rasulullah bersabda : “Diantara hamba-hamba Allah yang paling disukai-Nya ialah yang paling baik ahklaknya”. (H.R. Tabrani).
Oleh sebab itulah manusia tidak hanya diharapkan memiliki ilmu yang tinggi, tetapi manusia juga harus memiliki akhlak yang baik, akhlakul karimah, yaitu manusia yang memiliki kedua-duanya. Sehingga manusia tersebut akan berguna bagi seluruh umat manusia. Jika manusia itu menjadi pemimpin, maka dia pemimpin yang selalu mengajak rakyatnya berbuat baik, bukan pemimpin yang hanya bisa berbicara dan korupsi. jika manusia itu menjadi pejabat pemerintah, dia akan selalu ingat bahwa dia memegang amanat yang telah dititipkan oleh rakyat sehingga dia akan melayani rakyat, bukan menjadi sok raja rakyat. Jika manusia itu menjadi guru, maka dia akan menjadi guru yang selalu menanamkan sikap dan tingkah laku yang baik dan selalu disertai dengan ilmu yang bermanfaat, bukan hanya guru yang bisa memberi perintah dan mengharap hasil yang baik tanpa melihat proses dari pembelajaran yang dilakukannya. Jika manusia itu menjadi rakyat, dia bisa menghargai sesama, menyayangi sesama, dan menghormati sesama. Selain itu, dia juga bisa menghargai sejarah dan budaya bangsanya, bukan rakyat yang hanya ingin dirinya senang dan memiliki kekayaan duniawi serta membanggakan budaya dan kehidupan bangsa lain.
Penulis berharap semoga kita semua bisa menjadi orang-orang yang dicintai Allah SWT, amin.
Selasa, 26 Agustus 2008
KREATIF BERPIKIR DAN KREATIF BERBUAT
Oleh : Jamyas Suhardi, S.Pd.
Pendahuluan
Sebagai seorang guru harus bisa mendidik, mengajar, dan membimbing siswa. Salah satu yang harus dilakukan terhadap siswa adalah mengajarkan mereka bagaimana cara mengembangkan pemikiran positif terhadap berbagai masalah/persoalan yang dihadapi. Masalah yang dihadapi siswa beragam dari masalah di sekolah maupun di rumah. Jika, masalah-masalah tersebut tidak bisa siswa sikapi dengan positif, hal itu akan mempengaruhi hasil belajarnya. Oleh karena itulah, peran guru dalam mendidik siswanya mengarah pada pembelajaran yang demokratis. Jadi, siswa tidak segan untuk mengungkapkan masalah yang dihadapinya.
Dalam mengembangkan pemikiran positif, seseorang itu harus hidup kreatif. Menurut Utami Munandar (1999:19) hidup kreatif berarti mengembangkan talenta yang dimiliki, belajar menggunakan kemampuan diri sendiri secara optimal; menjajaki gagasan baru, tempat-tempat baru, aktivitas-aktivitas baru, mengembangkan kepekaan terhadap masalah lingkungan, masalah orang lain,dan masalah kemanusiaan.
Hidup kreatif ada 2 macam, yaitu kreatif dalam berpikir dan kreatif dalam berbuat. Kreatif dalam berpikir artinya dapat memberi sumbangan pendapat yang bisa dijadikan pijakan dalam pengambilan keputusan atau tindakan. Sedangkan kreatif dalam berbuat artinya harus bisa bertindak yang tepat, tetapi harus berdasarkan pemikiran-pemikiran yang inovatif.
Oleh sebab itulah, Mark Brown memberi gambaran tentang model lima tahap untuk berpikir yang disebut dengan istilah AGISA. A (analysis) mengungkapkan hal-hal yang mempengaruhi keputusan. G (goals) hasil dari pengungkapan masalah tersebut. I (ideas) mencari ide-ide yang bisa dikembangkan. S (selection) menyeleksi ide-ide untuk diperiksa kelemahannya lalu solusinya. A (action) melakukan tindakan terhadap ide yang dipilih.
Guru harus bisa menerima gagasan yang dikemukan oleh siswa baik itu gagasannya salah maupun benar. Jika, gagasan yang dikemukakan oleh siswa salah, guru harus berpikir secara postif. Karena tujuan kita untuk merangsang siswa mengeluarkan pendapatnya terhadap suatu persoalan. Banyaknya guru menerima gaagsan dari siswa, guru akan mudah dalam menentukan tindakan selanjutnya.
Kasus yang Terjadi
Di sebuah sekolah ada siswa yang mengalami kesulitan dalam mengembangkan pemikiran positif terhadap berbagai persoalan. Hal ini bisa dilihat dari proses belajar.
Contoh : Iwan dalam ulangan Bahasa dan Sastra Indonesia, dia mendapat nilai 3 dan dia tidak lulus pada ulangan tersebut.
Secara logika, jika mendapat nilai 3 harus cepat minta remedial pada guru bersangkutan. Tetapi, Iwan ini acuh tak acuh terhadap nilainya itu. Dari peristiwa ini tidak tampak darinya untuk berpikir kreatif dan berbuat kreatif. Untuk berusaha memperbaiki nilainya
Rumusan Masalah
Bagaimana cara mengatasi kesulitan siswa dalam mengembangkan pemikiran positif terhadap berbagai persoalan?
Penyebab Terjadinya Permasalahan
Adapun penyebab yang mengakibatkan terjadi kesulitan dalam mengembangkan pemikiran positif menurut Sumadi Suryabarata (1990:249) terdapat 2 faktor, yaitu.
1. Faktor internal, yaitu faktor-faktor yang berasal dari dalam diri siswa, meliputi :
· Intelegensi ialah tingkat kecerdasan yang mempengaruhi hasil belajar.
· Bakat ialah kecakapan dasar yang dibawa sejak lahir.
· Minat ialah kesanggupan siswa untuk menerima atau menolak pelajaran maupun guru pemberi pelajaran.
· Motivasi ialah dorongan yang diperoleh seseorang untuk melakukan sesuatu.
2. Faktor eksternal, yaitu faktor-faktor yang bersal dari luar diri siswa, meliputi :
· Keluarga
Keluarga di antaranya orang tua yaitu bagaimana hubungan orang tua dengan anak dan bagaimana orang tua mendidik anaknya. Suasana rumah yaitu jumlah anggota keluarga di dalam rumah, ramai atau sedikit, harrmonis atau tidak. Keadaan sosial ekonomi keluarga tinggi, sedang atau kurang.
· Sekolah
Sekolah di antaranya, interaksi guru dengan murid yaitu hubungan antara guru dan murid baik atau tidak. Cara guru menyajikan materi pelajaran yaitu menggunakan metode-metode apa saja. Hubungan antarsiswa, yaitu siswa berinteraksi dengan teman sekelasnya.
· Masyarakat
Masyarakat di antaranya teman bergaul yaitu teman-teman siswa di luar sekolah yang dapat mempengaruhinya. Lingkungan tetangganya yaitu lingkungan tempat tinggalnya. Aktivitas dalam masyarakat yaitu kegiatan apa saja yang diikuti oleh siswa di lingkungan tempat tinggalnya.
Solusi
Untuk mengatasi permasalahan yang terjadi pada siswa yang sulit mengembangkan pemikiran positif adalah sebagai berikut.
1. Pembelajaran Demokratis
Dalam proses pembelajaran harus bersifat demokratis. Pembelajaran demokratis adalah pembelajaran yang di dalamnya terdapat interaksi dua arah antara guru dan siswa. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif memberikan reaksi, siswa bertanya maupun memberi tanggapan kritis tanpa ada perasaan takut. Bahkan, kalau perlu siswa diperbolehkan menyanggah informasi atau pendapat guru, jika memang dia mempunyai informasi atau pendapat yang berbeda. Hasil belajar pada dasarnya merupakan hasil interaksi antara guru dan pengalaman siswa.
2. Layanan Bimbingan dalam Belajar
Guru harus bisa memberi layanan bimbingan dalam belajar seperti yang dikemukakan oleh Dewa Ketut Sukardi (1983:79) sebagai berikut :
· Mencari cara-cara belajar yang efisien dan efektif bagi seorang anak atau sekelompok anak.
· Menunjukkan cara mempelajari sesuatu dan menggunakan buku pelajaran
· Memberi informasi bagaimana memanfaatkan perpustakaan.
. Menunjukkan cara menghadapi kesulitan dalam bidang studi tertentu.
· Menentukan pembagian tambahan baik untuk pengembangan bakat dan karirnya di masa depan.
3. Motivasi Belajar
Untuk mengembangkan pemikiran positif timbulkan dulu motivasi belajar dengan cara memunculkan keinginan-keinginan seperti yang dikemukakan oleh Thursan Hakim (2001:30-31) sebagai berikut :
· Keinginan mendapat nilai ujian yang baik.
· Keinginan menjadi juata kelas atau juara umum.
· Keinginan naik kelas atau lulus ujian.
· Keinginan menjaga harga diri atau gengsi, misalnya ingin untuk dianggap pandai.
· Keinginan untuk menang bersaing dengan orang lain
· Keinginan menjadi siswa teladan.
· Keinginan untuk dikagumi sebagai orang yang berprestasi.
· Keinginan untuk melaksanakan anjuran/dorongan oranglain seperti orang tua, kakak, guru, dan teman akrab.
4. Berpikir Kreatif
Menurut Radno Harsanto (2005:64) bahwa untuk menjadi seorang pemikir kreatif harus mampu untuk :
· Berfantasi atau mengemukakan gagasan-gagasan yang tidak umum, tidak biasa.
· Berinkubasi atau berada pada satu gagasan untuk beberapa saat.
· Berani mengambil resiko berbeda denan apa yang biasa dipikirkan orang lain.
· Peka atas ciptaan alam dan manusia.Mudah tertarik untuk bermain-main dengan gagasan-gagasan yang aneh.
Kamis, 29 Mei 2008
KARANGAN EKSPOSISI
SYARAT MENULIS EKSPOSISI, yaitu :
1. Kita harus mengetahui masalah atau persoalan yang akan ditulis.
2. Kita harus mempunyai kemampan menganalisis persoalan secara jelas dan konkret.
LANGKAH-LANGKAH MENULIS EKSPOSISI, yaitu :
1. Menetapkan Tema Tulisan
Tema harus kita persiapkan dan tentukan terlebih dahulu. Tema tulisan inilah yang akan dikembangkan menjadi tulisan. Dengan demikian, tema menjiwai tulisan.
Contoh tema yang masih luas : Lalu Lintas ini dapat dipersempit lagi menjadi Lalu Lintas Jalan Raya dan ini pun bisa dipersempit lagi menjadi Kemacetan Lalu Lintas di Jalan Raya.
2. Menentukan Tujuan Penulisan
Dalam langkah yang kedua ini penulis berusaha menerangkan pokok persoalan yang terkandung di dalam tema. Untuk itu diperlukan fakta-fakta yang harus disusun dengan sebaik-baiknya agar mudah dipahami pembaca. Misalnya, kita hendak menulis eksposisi dengan tema Kemacetan Lalu Lintas di Jalan Raya, tujuan menulis dapat ditentukan seperti :
· Menjelaskan bahwa setiap hari lalu lintas di jalan raya mengalami kemacetan.
· Menerangkan bahwa kemacetan lalu lintas di jalan raya dapat menganggu manusia.
· Menjelaskan betapa kacaunya lalu lintas di jalan raya sehingga muncul kemacetan.
· Menerangkan bahwa ada beberapa penyebab munculnya kemacetan lalu lintas di jalan raya.
3. Mengumpulkan Bahan Tulisan
Bahan tulisan eksposisi dapat diperoleh melalui berbagai sumber, daat melalui sumber tertulis, seperti buku, majalah, surat kabar, dan lain-lain. Bahan juga bisa diperoleh melalui wawancara dengan orang yang dianggap ahli atau melalui pengamatan dan peninjauan langsung terhadap objek yang akan ditulis. Jika kita hendak menulis eksposisi tentang Kemacetan Lalu Lintas di Jalan Raya, bahan yang terkumpul antara lain :
· Keadaan kemacetan lalu lintas
· Waktu kemacetan lalu lintas
· Penyebab kemacetan lalu lintas
· Akibat kemacetan lalu lintas
4. Menentapkan Kerangka Tulisan
Dalam langkah ini, seluruh bahan yang sudah terkumpul harus dirinci dan diseleksi secara cermat. Bahan-bahan yang tidak menunjang tema tulisan yang sedang kita garap sebaiknya kita buang atau kita kesampingkan. Jika kita menulis dengan tema Kemacetan Lalu Lintas di Jalan Raya, dengan memperhatikan bahan yang sudah terdapat pada langkah ketiga, kerangka tulisannya seperti berikut ini.
I. Kemacetan lalu lintas
A. Tidak aneh
B. Menjengkelkan kita
II. Waktu kemacetan lalu lintas
A. Pagi hari
B. Siang hari
C. Sore hari
III. Penyebab kemacetan lalu lintas
A. Persilangan dengan kereta api
B. Semakin banyak kendaraan
C. Parkir pedagang dan kaki lima
D. Lalu lalu lintas mati
E. Sikap kurang terpuji para pengemudi
F. Polisi lalu lintas tidak tampak
IV. Akibat kemacetan lalu lintas
A. Waktu terbuang percuma
B. Bahan bakar terbuang percuma
C. Polusi udara dan suara
D. Stres menyerang kesehatan rohani.
5. Mengembangkan Tulisan
Dengan kerangka tulisan yang sudah disiapkan, pengembangan tulisan dapat dikerjakan dengan baik. Saat mengembangkan karangan harus memperhatikan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Gunakanlah kalimat efektif, pilihan kata yang tepat, ejaan yang benar, dan tanda baca yang tepat.
Pengembangan tulisan eksposisi yang berasal dari kerangka tulisan yang terdapat pada langkah keempat, tampak pada wacana berikut ini.
Kemacetan Lalu Lintas di Jalan Raya
Di banyak kota besar, kemacetan lalu lintas di jalan raya menjadi persoalan yang pelik. Sebenarnya ini merupakan yang tidak aneh. Meskipun demikian, kemacetan lalu lintas merupakan keadaan yang menjengkelkan kita sebagai pengguna jalan.
Jika diperhatikan, pada waktu-waktu tertentu lalu lintas di jalan-jalan tampak macet. Pada pagi hari, kemacetan lalu lintas mulai terasa ketika warga masyarakat mulai berangkat ke tempat mereka bekerja dan para pelajar mulai berangkat ke sekolah. Pada siang hari kemacetan lalu lintas mencapai puncaknya.
Banyak hal yang menjadi kemacetan lalu lintas. Pertama, adanya persilangan dengan jalan kereta api. Kedua, semakin banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalan-jalan. Ketiga, banyak jalan digunakan sebagai parkir kendaraan dan sebagai tempat para pedagang kaki lima berjualan. Keempat, sering terjadi lampu lalu lintas mati. Kelima, sikap kurang terpuji pada pengemudi, seperti memberhentikan kendaraannya tidak pada tempatnya dan saling mendahului denan kendaraan lainnya. Terakhir, polisi lalu lintas tidak tampak di tempat tugasnya, apalagi jika lampu lalu lintas mati.
Dengan demikian, akibat kemacetan lalu lintas pun muncul, seperti waktu yang terbuang percuma. Selain itu, bahan bakar juga terbuang percuma. Kemacetan lalu lintas juga dapat menyebabkan polusi udara dan suara. Bahkan, dapat mengakibatkan stres yang menyerang kesehatan rohani kita.
PUISI LAMA
Puisi lama merupakann warisan budaya yang tidak boleh dilupakan. Dalam puisi lama terkandung pesan-pesan moral dan nasihat. Puisi lama antara lain :
1. Gurindam ialah satu bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua belas kalimat dengan irama akhir yang sama, yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian dan baris kedua berisikan jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi.
Contoh Gurindam
Gurindam Nasihat
Apabila banyak berkata-kata,
Di situ jalan masuk dusta.
Apabila kita kurang siasat,
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
Jika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
Itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang banyak tidur,
Sia-sia sajalah umur.
Apabila mendengar akan kabar,
Menerimanya itu hendaklah sabar.
2. Karmina (pantun kilat) merupakan pantun yang terdiri dari dua baris. Baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua adalah isi.
Contoh Karmina
Sudah gaharu cendana pula
Sudah tahu masih nanya pula
3. Pantun merupakan sejenis puisi yang terdiri dari 4 baris bersajak ab-ab atau aa-aa. Dua baris pertama merupakan sampiran dan dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.
Contoh Pantun
Kayu cendana di atas batu
Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang
4. Seloka merupakan bentuk puisi Melayu klasik, berisikan pepatah maupun perumpamaan yang mendandung senda gurau, sindiran bahkan ejekan.
Contoh Seloka
Sudah bertemu kasih sayang
Duduk terkurung malam siang
Hingga setapak tiada renggang
Tulang sendi habis berguncang
5. Syair merupakan karangan dalam bentuk terikat yang mementingkan irama sajak.
Contoh Syair
Syair Nasihat Orang Tua Terhada p Anak
Wahai Ananda hendaklah
Hidup di dunia amatlah singkat
Banyakkan amal serta ibadat
Supaya selamat dunia akhirat
Wahai Ananda dengarkan peri
Tunangan hidup adalah mati
Carilah bekal ketika pagi
Supaya tidak menyesal nanti
Wahai Ananda dengarkan madah
Baikkan laku elokkan tingkah
Banyakkan kerja yang berfaedah
Supaya hidupmu beroleh berkah
Wahai Ananda dengarlah pesan
Kuatkan hati teguhkan iman
Jangan didengar bisikan setan
Supaya dirimu diampuni Tuhan
Wahai Ananda peganglah janji
Berbuat khianat engkau jauhi
Banyakkan olehmu bertanam budi
Supaya kelak hidup terpuji
Wahai Ananda cahaya mata
Janganlah tamak terhadap harta
Mencari nafkah berpada-pada
Supaya hidupmu tiada ternista
6. Talibun merupakan sejenis puisi lama seperti pantun karena mempunyai sampiran dan isi, tetapi lebih dari 4 baris.
Contoh Talibun
Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak beli
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanak pun cari
Minggu, 25 Mei 2008
STRATEGI MEMULAI MENULIS
1. Kemauan merupakan modal utama bagi seseorang untuk menggerakkan dirinya mencapai sesuatu. Bahkan bukan sekedar kemauan, melainkan ambisi.
2. Motivasi menulis (apakah anda ingin dikenal orang (populer), mendapat penghasilan, atau menjadikan menulis sebagai profesi).
3. Kemampuan (diwujudkan melaui latihan yang keras dan terus-menerus).
Adapun kemampuan yang diperlukan untuk menulis artikel atau menjadi seorang penulis, antara lain :
a. Kemampuan mengamati fenomena yang berkembang di masyarakat.
b. Kemampuan berbahasa tulis
Cara Memulai Menulis
1. Menggali ide sama halnya dengan mencari inspirasi (bisa melalui menimbulkan pertanyaan mengapa... bagaimana terhadap sebuah fenomena yang ada).
2. Mengumpulkan bahan (referensi)
a. Dengan mengadakan pengamatan dan peninjauan langsung terhadap objek yang akan ditulis.
b. Membaca buku, Koran, majalah, atau bahan bacaan lainnya. Cara seperti ini disebut studi bacaan atau studi kepustakaan.
c. Melalui wawancara dengan narasumber yang menguasai permaslahan yang ingin kita ketahui.
d. Melalui gabungan beberapa cara yang telah dikemukakan.
3. Mulai menulis
Untuk memulai menulis banyak cara yang bisa dilakukan, bisa dimulai dengan cara mengutip berita, mengutip ayat Al-Quran atau hadis/alkitab, mengutip ucapan seseorang, dan mengutip pendapat/pemikiran seseorang.
· Dengan cara mengutip berita (melalui deskripsi)
Contoh : Menyoal Nasib Guru
Umar Bakri (30 tahun), seorang guru SD di Anu, melakukan ”mogok mengajar” gara-gara gajinya yang hanya Rp ....... per bulan dipotong 25%. Seperti diberitakan Harian Anu (1/1), Umar Bakri melakukan aksi protesnya selama seminggu, membuat murid-muridya tidak dapat belajar selama itu.
Apa yang dilakukan Umar Bakri, dapat dimengerti. Langka seorang guru dengan berani melakukan aksi nyata seperti dia, sebagai protes akan pemotongan gajinya. Umar Bakri hanya satu contoh betapa nasib guru sekarang memprihatinkan. Tulisan ini akan membahas kondisi umum guru kita dewasa ini dan gambaran betapa mulia status guru. ...................
· Dengan cara mengutip ayat Al-Quran (melalui eksposisi)
Contoh : Akhlakul Karimah: Kunci Sukses Pergaulan
”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. Demikian (arti) sabda Rasulullah Saw, yang menjelaskan tugas utamanya sebagai utusan Allah di dunia ini. Gambaran misi Rasulullah tersebut sangat sederhana, namun bermakna dalam, dan menegaskan bahwa penyempurnaan akhlak mulia merupakan sasaran utama risalah Islam.
Hadis di atas juga menunjukkan, betapa akhlak merupakan hal penting diperhatikan oleh kita. Sebab, akhlak atau budi pekerti adalah sumber sekaligus penggerak perilaku seseorang, baik dalam berhubungan dengan sesama manusia (pergaulan sosial) maupun dengan Tuhan. Tulisan ini akan membahas mengapa akhlak menjadi sasaran utama risalah Islam, apa yang dimaksud dengan akhlak mulia, dan bagaimana fungsi dan peran akhlak dalam pergaulan sosial manusia. (subjudul pembahasan: pengertian akhlak, ciri-ciri akhlak mulia, akhlak mulia modal utama pergaulan harmonis). ......................
· Dengan cara mengutip ucapan seseorang (melalui argumentasi)
Contoh : Melacak Akar Perselingkuhan
”Perselingkuhan semakin merajalela dan menjadi fenomena nasional,” demikian ungkap Dr. Anu dalam sebuah ceramahnya. ”Penyebabnya antara lain mandegnya komunikasi antara suami-istri.”
Apa yang diungkapkan Dr Anu di atas patut menjadi perhatian sekaligus keprihatinan kita. Terlebih, penyebab perselingkuhan yang dikemukakan pakar tadi, hanyalah satu dari sekian faktor. Tulisan ini akan mengulas apa sebenarnya perselingkuhan, mengapa hal itu terjadi, dan bagaimana mengantisipasinya. (subjudul pembahasan: pengertian selingkuh/ perselingkkuhan, sebab-sebab perselingkuhan, kiat menghindari perselingkuhan). ......................
· Dengan cara mengutip pendapat/pemikiran seseorang (melalui argumentasi)
Contoh : Potret Kehidupan Umat Beragama
Agama, menurut Dr. M.A. Anu (1984), mempengaruhi dan membentuk pandangan dunia seseorang. Agama menciptakan perasaan tanggung jawab terhadap Tuhannya dengan menyadarkannya bahwa ia merupakan bagian dari alam semesta.
Agama, lanjut Dr. M.A. Anu, bisa mempengaruhi sikap moral seseorang. Ia bisa mencegahnyanya berbuat jahat dan tercela; membuatnya mampu berbuat baik, pada dirinya sendiri juga pada orang lain.
Jika kita sepakat dengan pandangan di atas, kta melihat bagaimana pentingnya agama bagi kehidupan seseorang dan kehidupan di dunia ini pada umumnya. Kita juga bisa mengukur diri, apakah agama yang kita anut telah berperan atau diperankan dalam diri kita sebagaimana dikatakan Dr. M.A Anu di atas? Lalu, bagaimana ”potret” keberagaman umat dewasa ini? Apakah perilaku mereka telah mencerminkan bahwa mereka umat beragama? (Subjudul pembahasan: fungsi agama bagi manusia, karakteristik umat beragama, realitas kehidupan umat beragama). ............
Ada sebuah nasihat dari James G. Robbins dan Barbara S. Jones tentang menulis yang patut kita perhatikan:
”Janganlah tunggu sampai anda dapat menulis kalimat atau bab-bab yang sempurna, atau ungkapan-ungkapan yang dalam. Janganlah terkejut atau kecewa jika anda gagal untuk mempertunjukkan atau menghasilkan kualitas yang tinggi dalam tulisan pertama anda. Pokoknya teruslah memulainya.
Menilai apa yang sudah kita tuliskan adalah langkah kemudian... kita perlu untuk kritis dan selalu berkeinginan untuk mengubah dan memperbaikinya... Yang terbaik dilakukan. Kalau mungkin, ialah menjauhkan atau menyimpan dulu apa yang sudah kita tulis itu, dan membiarkannya begitu saja selama sehari atau lebih, dan kemudian memeriksanya kembali... Seorang penulis yang baik ialah juga seorang penulis ulang yang baik (a good writer is also a good rewriter)…”
Refensi
Romli, Asep Syamsul M. 1999. Jurnalistik Praktis (untuk pemula). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Suparno dan M. Yunus. 2002. Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: PPUT.
Tarigan, Djago. 1991. Membina Keterampilan Menulis Paragraf dan Pengembangannya. Bandung: Angkasa Bandung.
Rabu, 21 Mei 2008
KARANGAN DESKRIPSI
MACAM-MACAM DESKRIPSI, yaitu :
1. Deskripsi Sugestif
Deskripsi sugestif ialah deskripsi yang bertujuan membangkitkan daya khayal, kesan atau sugesti tertentu, seolah-olah pembaca melihat sendiri objek (yang dideskripsikan) secara keseluruhan seperti yang dialami secara fisik oleh penulisnya.
Contoh deskripsi sugestif yang membicarakan objek tempat
Kilometer Nol, Sebuah Lambang
Sebuah tugu di ujung Utara pulau Weah Aceh, berdiri tegak setinggi delapan meter. Landasannya, beton berteratak mirip tangga bersusun lima. Dengan panjang dan lebar sekitar enam meter. Tentu itu terletak di sebuah semak belukar di bilangan Jaboi, kotamadya Sabang.
Itulah kilometer nol Indonesia. Berada di tugu itu, terasa sesuatu merayap di kalbu, perasaan keindonesiaan. Lagu patriotik Dari Sabang sampai Marauke seakan-akan tergiang-ngiang di telinga. Kita sedang menginjak setapak tanah di ujung paling Barat Nusantara.
Lambang Garuda begitu megah bertenger di puncak tugu. Di bawah kaki Sang Garuda, ada relief yang melukiskan untaian zamrud kepulauan di Indonesia. Memang, sempat timbul tanda tanya, apakah kilometer nol ini benar menjadi ukuran pasti dimulainya bentangan jalan raya dari ujung Barat Indonesia ke Timur. Akan tetapi, berada dititik itu, slogan Sabang-Marauke tiba-tiba menjadi sangat bermakna.
Dari titik nol kilometer ini, jalan hanya selebar 3 meter. Itupun hanya permukaan sekitar 2 meter yang kelihatan, selebihnya tertutup semak belukar. Sulit dibayangkan, jika ada kendaraan 2 arah berada di jalur itu. Jarak kilometer nol ke kota Sabang 22,5 Km. Lalu, dari Sabang terbentang lagi jarak 28 mil laut atau hampir 52 Km dan tiga jam perjalanan feri ke ujung utara Sumatra.
Jalan menuju kilometer nol hampir tak berbicara sebagai sebuah jalan raya. Kilometer nol pun seakan-akan tak berbicara sebagai tanda kilometer di tempat lain. Bahkan pualam bertuliskan ”KM0” telah dicopot tangan-tangan jahil. Sedangkan tugu-tugu yang kesepian itu tak pernah dihiraukan sebagai tanda kilometer jalan raya. Akan tetapi, dalam keheningan belukar di Jaboi, di bawah bola-bola awan yang keperakan, di sela-sela deburan ombak, tugu itu tetap tegar sebagai sebuah lambang yang berbicara tentang kesatuan Indonesia.
2. Deskripsi Teknis
Deskripsi teknis ialah deskripsi yang bertujuan memberikan identifikasi atau informasi objek, sehingga pembaca dapat mengenal bila bertemu atau berhadapan dengan objek itu.
Contoh deskripsi teknis
Tentang Agroindustri
Salah satu sektor yang mempunyai arti strategis dalam Pembangunan Nasional Jangka Panjang adalah pengembangan agroindustri. Agroindustri adalah kegiatan industri yang memanfaatkan hasil pertanian sebagai bahan baku, merancang dan menyediakan peralatan pertanian serta jasa bagi kegiatan tersebut.
Titik berat Pembangunan Jangka Panjang adalah pembangunan ekonomi dengan sasaran utama mencapai keseimbangan antara bidang pertanian dan bidang industri yang kuat ditunjang oleh pertanian yang tangguh, yang dapat membawa perubahan fundamental dalam struktur perekonomian Indonesia, sehingga produksi nasional yang berasal dari sector luar pertanian merupakan bagian yang makin besar dan akhirnya menjadi tulang punggung perekonomian.
Industri yang kuat adalah industri yang strukturnya kukuh dan berakar pada kemampuan sumber daya alam yang dimiliki dan yang dapat menjelmakan kaitan ke depan, ke samping, dan ke belakang dengan industri lainnya. Pertanian yang tangguh adalah yang mampu menyediakan bahan baku hasil pertanian dalam jumlah, mutu, dan waktu yang dapat mendorong pertumbuhan industri.
Dengan demikian, sector agroindustri merupakan mata rantai penghubung antara sector pertanian dan sector industri. Pengembangan sector agroindustri di samping mempunyai arti strategis dalam kerangka Pembangunan Nasional Jangka Panjang juga dapat meningkatkan daya serap tenaga kerja dengan membuka spectrum baru lapangan kerja yang luas dan beragam, baik formal maupun nonformal.
Ruang lingkup agroindustri yang luas memungkinkan tenaga kerja informal bisa diserap lebih banyak. Agroindustri meliputi industri pengolahan hasil pertanian, industri peralatan dan mesin pertanian serta industri jasa pertanian. Industri pengolahan hasil pertanian mempunyai lima subsektor, yaitu: industri pengolahan tanaman pangan, perkebunan, hasil hutan perkebunan, dan hasil peternakan. Industri peralatan dan mesin pertanian mencakup industri peralatan dan mesin pertanian budidaya serta pengolahan. Industri jasa sektor pertanian meliputi perdagangan, konsultasi, dan komunikasi.
PENDEKATAN DESKRIPTIF
1. Pendekatan Realistis
Dengan pendekatan ini, objek yang tengah diamati harus dituliskan seobjektif-objektifnya. Artinya, objek yang tengah diamati harus dilukiskan sesuai dengan keadaan yang nyata. Perincian-perincian dan perbandingan antara satu bagian dengan bagian yang lain, harus dipaparkan sedemikian rupa sehingga tampak seperti di potret.
2. Pendekatan Impresionistis
Dengan pendekatan ini penulis menggambarkan atau melukiskan objek secara subjektif. Artinya, objek yang akan digambarkan atau dilukiskan dikemukakan oleh penulis secara bebas dan berdasarkan penafsirannya saja. Penulis harus menyeleksi bagian-bagian yang diperlukan dari kenyataan-kenyataan yang hendak dideskripsikan secara cermat.
3. Pendekatan Sikap Penulis
Dengan pendekatan ini akan terlihat bagaimana sikap penulis terhadap objek yang akan digambarkan atau dilukiskan. Penulis dapat mengambil salah satu sikap, seperti sikap masa bodoh, bersungguh-sungguh dan cermat, seenaknya, dan sebagainya. Sikap-sikap ini berhubungan pula dengan tujuan yang akan dicapai penulis, sifat objek, dan orang yang membaca deskripsinya.
LANGKAH-LANGKAH MENULIS DESKRIPSI, yaitu :
1. Menetapkan Tema Tulisan
Tema tulisan, yaitu gagasan, persoalan, masalah, atau ide yang akan kita kemukakan dalam tulisan. Karena tulisan yang hendak kita kembangkan berbentuk deskripsi, tema tulisan tentu berupa objek yang akan kita tulis. Misalnya, kita hendak menulis deskripsi sugestif tentang kegiatan yang terdapat di sekolah. Karena tema ini terlalu luas, maka perlu dipersempit lagi. Dari sini dapat ditetapkan beberapa tema kecil, seperti upacara bendera, pergelaran seni, atau pertandingan olahraga.
2. Menetapkan Tujuan Tulisan
Dengan menulis deskripsi maka tujuan hendak dicapai ialah memberikan gambaran dan rincian suatu objek kepada pembaca. Jika yang kita tulis berbentuk deskripsi sugestif maka tujuan menulis ialah berusaha menciptakan penghayatan melalui imajinasi pembaca terhadap objek tertentu. Akan tetapi, jika yang kita tulis itu berbentuk deskripsi teknis maka tujuan menulis ialah berusaha menanamkan pengertian kepada pembaca terhadap objek tertentu dengan cara memberikan indentifikasi dan informasi mengenai objek tersebut.
Umpamanya kita hendak menulis deskripsi sugestif tentang jalannya upacara penaikan bendera di sekolah. Tujuan kita menulis ialah memberikan gambaran kepada pembaca tentang jalannya upacara penaikan bendera agar pembaca dapat menghayatinya.
3. Mengumpulkan Bahan Tulisan
Bahan tulisan dapat diperoleh melalui berbagai cara, diantaranya :
1. Dengan mengadakan pengamatan dan peninjauan langsung terhadap objek yang akan ditulis.
2. Membaca buku, Koran, majalah, atau bahan bacaan lainnya. Cara seperti ini disebut studi bacaan atau studi kepustakaan.
3. Melalui wawancara dengan narasumber yang menguasai permasalahan yang ingin kita ketahui.
4. Melalui gabungan beberapa cara yang telah dikemukakan.
Kita hendak menulis deskripsi sugestif tentang upacara penaikan bendera di sekolah, bahan tulisan yang dapat diperoleh dan dikumpulkan adalah waktu upacara, petugas pelaksana upacara, tempat upacara, peserta upacara, pembina upacara, pesan pembina upacara, dan suasana upacara.
4. Menyiapkan Kerangka Tulisan
Umpamanya kita hendak menulis deskripsi tentang pelaksanaan upacara penaikan bendera di sekolah dengan bahan-bahan yang telah dikumpulkan, maka kerangka karangan tampak seperti berikut ini.
I. Waktu upacara penaikan bendera
A. Tepat pukul 07.00
B. Siswa berbaris
II. Tempat upacara
A. Bersemen dan bersih
B. Pepohonan dan bunga
III. Petugas pelaksana upacara
A. Kebijaksanaan sekolah
B. Bertanggung jawab
IV. Peserta upacara
A. Para guru
B. Para karyawan dan tata usaha
V. Suasana upacara
A. Khidmat
B. Disiplin
VI. Pembina upacara
A. Kepala sekolah
B. Bapak atau ibu guru
VII. Pesan Pembina upacara
A. Kewajiban kita
B. Rajin belajar
5. Mengembangkan Tulisan
Jika kita menulis deskripsi tentang pelaksanaan upacara penaikan bendera di sekolah dengan menggunakan kerangka karangan seperti tampak pada langkah keempat, pengembangan tulisannya tampak seperti di bawah ini.
Upacara Penaikan Bendera di Sekolahku
Di sekolahku upacara penaikan bendera dilaksanakan pada setiap hari Senin. Tepat pada pukul 07.00 para siswa turun ke lapangan. Setelah para siswa berbaris rapi, upacara pun dimulai.
Upacara dilaksanakan di lapangan sekolah. Lapangan itu bersemen dan bersih. Di pinggir lapangan tumbuh rimbun pohon dan bunga yang indah.
Secara bergiliran setiap kelas menjadi petugas upacara. Hal ini sudah merupakan kebijaksanaan sekolah agar para siswa belajar berorganisasi. Selain itu, bertujuan agar para siswa bertanggung jawab atas tugas-tugas yang diberikan oleh sekolah.
Seluruh pelajar dengan sendirinya menjadi peserta upacara. Di samping itu, para guru dan karyawan tata usaha menjadi peserta upacara.
Suasana upacara berlangsung tertib. Seluruh upacara dengan khidmat mengikuti upacara. Para siswa juga menunjukkan disiplin yang tinggi selama mengikuti upacara.
Setiap upacara berlangsung selalu hadir pembina upacara. Biasanya yang menjadi pembina upacara ialah kepala sekolah. Akan tetapi, jika kepala sekolah berhalangan hadir, bapak atu ibu guru dapat tampil sebagai pembina upacara.
Yang selalu kuingat jika mengikuti upacara ialah pesan pembina upacara. Isinya antara lain bahwa penyelenggaraan upacara penaikan bendera merupakan kewajiban kita dalam menghormati kedaulatan negara dan jasa para pahlawan. Maka dari itu, para pelajar diimbau agar rajin belajar.
ASAH KETERAMPILAN
1. Kembangkanlah kerangka karangan di bawah ini!
2. Bila anda sudah selesai membuatnya menjadi sebuah karangan, karangan tersebut bisa dikonsultasikan dengan guru.
3. Bisa juga anda tukarkan karangan anda dengan teman-teman anda. Mintalah pendapat mereka tentang karangan anda!
Tema : Pergelaran Seni di Sekolah
I. Macam pergelaran seni
A. Seni drama
B. Seni tari
C. Seni lukis
D. Seni deklamasi (perbuatan membaca sajak yang disertai gerak dan mimik yang baik di muka umum)
II. Waktu pergelaran
A. Peringatan hari besar negara
B. Peringatan hari besar agama
C. Perpisahan siswa kelas tiga
III. Tempat pergelaran
A. Di aula sekolah
B. Dekorasi menarik
IV. Pesta pergelaran
A. Siswa yang berbakat
B. Berlatih dengan disiplin
C. Diarahkan oleh guru pembina
V. Suasana pergelaran
A. Tampak meriah
B. Memang memuaskan