Guruku... Alangkah besar pengabdianmu. Tanpa tanda jasa kau tetap setia mendidikku. Agar aku berguna bagi nusa dan bangsa.

Rabu, 11 Maret 2009

CARA-CARA UNTUK MENCARI TAHU, TEKNIK PENGUMPULAN DATA, DAN LAPORAN PENELITIAN

1. CARA UNTUK MENCARI TAHU
Dalam mencari tahu ada dua cara, yaitu secara kuantitatif dan kualitatif. Dengan cara kuantitatif bisa melalui eksperimen dan non-eksperimen. Kalau penelitian kuantitatif melalui eksperimen ada beberapa cara, antara lain :
a. True Experimental
Yaitu pemberian tugas acak terhadap kelompok yang berbeda karakter unik. Dalam true experimental setiap subjek punya kesempatan atau peluang untuk diujikan pada setiap kelompok. Tidak ada perbedaan subjek dalam tiap kelompok.
Contoh : Ada sebuah lahan pertanian, yang lahan tersebut dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian A dan bagian B. Lahan A dan B ini terletak pada lahan yang sama. Pada lahan ini diberi pupuk secara acak, tetapi memiliki curah hujan yang sama, memiliki hama yang sama, dan faktor lainnya.
b. Quasi-experimental
Quasi-experimental hampir sama dengan true experimental tetapi quasi-experimental tidak acak. Tujuannya untuk mengetahui efek dan penyebab dari satu kondisi.
c. Single Subject
Dalam penelitian single subject, penelitian tidak difokuskan terhadap satu kelompok, tetapi lebih ditekankan pada satu subject bukan kelompok. Dalam penelitian single subject ini tidak dilakukan secara acak. Penelitian single subject biasa untuk melihat perubahan perilaku.

Kalau penelitian kuantitatif melalui non-eksperimen ada beberapa cara, antara lain :
a. Descriptive
Penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang menjelaskan fenomena yang terjadi untuk menggambarkan karakter suatu individu atau kelompok. Untuk mengetahui nilai variabel satu dengan variabel lain dan menjawab pertanyaan sendiri (bagaimana, berapa).

b. Comparative
Komparatif merupakan suatu cara untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan antara dua fenomena atau lebih. Dalam komparatif ini tidak ada manipulasi kondisi dan sikap. Untuk mengetahui perbandingan antara satu dgn lain.
Contoh : Perbedaan Profit BUMN dengan perusahaan swasta.

c. Correlational
Penelitian korelasi merupakan penelitian untuk mencari hubungan antara dua atau lebih fenomena. Dalam korelasi ini terdapat, korelasi positif dan korelasi negatif. Dalam korelasi positif fenomena-fenomena tersebut memiliki hubungan yang kuat. Misalnya, hubungan antara berat dan tinggi serta skor IQ dengan pemerolehan skor. Korelasi negatif antara fenomena-fenomena tersebut memiliki hubungan yang tidak kuat. Misalnya, hubungan antara absen sekolah dengan prestasi sekolah.

d. Survey
Penelitian survey ini sering digunakan dalam penelitian di bidang pendidikan untuk menjelaskan perilaku, keyakinan, opini, atau yang berkaitan dengan informasi. Penelitian ini didesain sedemikian rupa sehingga informasi mengenai populasi dapat diketahui dari respon yang diberikan oleh sample (kelompok kecil subjek penelitian).
Contoh : Kecenderungan masyarakat konsumsi makanan

e. Ex post facto
Digunakan untuk mengetahui hubungan sebab-akibat yang mungkin terjadi antara beberapa variabel yang tidak dapat dimanipulasi oleh peneliti. Beberapa sebab tersebut akan dipelajari setelah terjadinya akibat. Meneliti peristiwa yg terjadi dan merunut ke belakang u/ mengetahui
faktor yg mempengaruhinya
Contoh : Peristiwa kebakaran, Flu Burung.

Selanjutnya dalam penelitian kualitatif juga terdapat dua cara, yaitu cara interaktif dan non-interaktif.
a. Interactive Inquiry
Dalam penelitian interactive inquiry, penelitian dilakukan lebih dalam melalui teknik tatap muka (melalui interview) dengan subjek penelitian dengan tujuan untuk mengumpulkan data dari orang-orang dalam pengaturan yang alami atau tidak dimanipulasi. Dalam model interaktif terdapat beberapa cara, antara lain :
1. Ethnographic
Penjelasan atau interpretasi terhadap suatu kultur (budaya), kelompok sosial, atau sistem.
2. Phenomenologic
Mencakup filosofi atau pandangan sains dan cara untuk mengetahui sesuatu (inquiry). Tujuan dari fenomenologi adalah untuk mengubah bentuk pengalaman ke dalam suatu uraian tentang inti sari sehingga pengaruh dari pengalaman tersebut akan menghasilkan sesuatu yang penuh makna.
3. Case Study
studi kasus merupakan suatu metode untuk mempelajari keadaan perkembangan seorang murid secara mendalam dengan tujuan membantu murid untuk mencapai penyesuaian diri yang lebih baik.
Studi kasus ini mendalam dan mendetail, maka studi kasus menghasilkan gambaran yang jelas tentang pengumpulan data dan analisis data yang dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Untuk itu kasus dapat terbatas pada satu orang, satu lembaga, satu keluarga, satu peristiwa atau satu masyarakat (satu kelompok masyarakat). Dalam studi kasus segala aspek yang menyebabkan terjadinya suatu masalah mendapat perhatian yang serius dari peneliti.
4. Grounded Theory
Digunakan untuk mengembangkan suatu konsep secara detail.
5. Critical Studies
Gaya dari pemeriksaan ini mengambil dari teori kritis, teori pejuang hak wanita, dan postmodern perspektif, yang berasumsi bahwa pengetahuan adalah subjektif. Peneliti-peneliti kritis bersifat curiga dari kebanyakan gaya-gaya dari pemeriksaan untuk mengabaikan hubungan daya tersembunyi dalam teknik-teknik pengumpulan data. Sebagian besar kritik riset kualitatif tradisional ditempatkan di dalam analisa yang naratif, riset di bidang ilmu, etnografi kritis, participatory riset di bidang ilmu, dan riset pejuang hak wanita. Studi-studi kritis mulai dengan suatu kesanggupan untuk mengungkapkan; menyingkapkan manipulasi dan tekanan sosial dan untuk mengubah struktur-struktur sosial.

b. Non-interactie Inquiry
Dalam non-interactive inquiry terdapat dua cara, yaitu consept analysis dan historical analysis.
1. Consept Analysis
Studi mengenai konsep pendidikan seperti pembelajaran kooperatif atau kepemimpinan dengan pengambaran maksud yang berbeda dan menggunakan konsep yang sesuai.
2. Historical Analysis
Historical analysis biasanya digunakan dalam studi program pendidikan, praktik-praktik, institusi, orang-orang, dan polisi-polisi.

2. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Dalam penelitian kuantitatif ada beberapa cara untuk mengumpulkan data, antara lain :
a. Observasi
Observasi langsung adalah suatu cara mengumpul data di mana peneliti mengadakan pengamatan langsung terhadap abjek kasus.
b. Interview
Interview adalah suatu cara pengumpulan data dengan cara berdialog antar peneliti dengan subjek kasus. Dalam interview alat yang dipakai adalah wawancara. Agar wawancara tepat sasaran, maka sebelum mengadakan interview atau wawancara disusunlah panduan wawancara.
c. Kuesioner
Kumpulan lembaran pertanyaan yang harus dijawab oleh koresponden sehingga diperolehlah data.
d. Alternative Assessment
Salah satu alternatif penilaian ádalah penampilan dasar seperti: membuat naskah pidato, menulis artikel, membuat presentasi musik, demontrasi, penampilan kemampuan atletik, dan Project lainnya.
e. Paper and Pencil Test
Dalam paper and pencil test ini biasanya dalam bentuk pilihan ganda, menjodohkan, pilihan benar atau salah, dan melengkapi.

Selanjutnya dalam penelitian kualitatif ada beberapa cara untuk mengumpulkan data, antara lain :
a. Participant Observation
Pengamatan peserta adalah satu teknik yang interaktip "mengambil bagian" sampai taraf tertentu secara alami untuk menguraikan apa yang terjadi.
b. Field Observation
Adalah mengambarkan secara mendetail mengenai orang, tindakan-tindakan, dan objek yang terdapat di lapangan. Dalam observasi lapangan menggunakan pengumpulan data interaktif seperti pengamatan peserta dan wawancara secara mendalam.
c. In-depth Interview
Wawancara sering digunakan dalam penelitian. Dalam wawancara hal yang biasa harus fokus pada permasalahan.
d. Documents and Artifacts
Kumpulan peristiwa dalam bentuk tulisan atau cetakan, mungkin juga dalam bentuk catatan-catatan, surat-surat, diari, dan dokumen-dokumen.
e. Supplementary Techniques
Adalah pilihan tindakan untuk membantu dalam interpretasi, meneliti, atau penguatan data yang diperoleh dari pengamatan peserta, wawancara, dokumen-dokumen, dan artifak-artifak.

3. LAPORAN PENELITIAN
Untuk penelitian kuantitatif susunannya, sebagai berikut :
· Abstract (ringkasan atau intisari)
· Introduction (kata pengantar)
· Research Problem (masalah penelitian)
· Review of Literature (kajian pustaka)
· Research Hipótesis or Question (hipótesis penelitian)
· Methodology (metodologi)
· Results (analisis data / hasil)
· Discussión and Conclusions (pembahasan dan kesimpulan)
· Referentes (daftar pustaka)
Untuk penelitian kualitatif susunannya, sebagai berikut :
· Introduction (kata pengantar)
· Methodology (metodologi)
· Findings and Interpretations (penemuan dan interpretasi)
· Conclusions (kesimpulan)
· Referentes (daftar pustaka)

PENGERTIAN KURIKULUM

Hilda Taba: Kurikulum adalah sebuah rancangan pembelajaran, yang disusun dengan mempertimbangkan berbagai hal mengenai proses pembelajaran serta perkembangan individu.

Daniel Tanner & Laurel Tanner : Pengalaman pembelajaran yang terencana dan terarah, yang disusun melalui proses rekonstruksi pengetahuan dan pengalaman yang sistematis di bawah pengawasan lembaga pendidikan agar pembelajar dapat terus memiliki minat untuk belajar sebagai bagian dari kompetensi sosial pribadinya.

Romine : Kurikulum mencakup semua temu permbelajaran, aktivitas dan pengalaman yang diikuti oleh anak didik dengan arahan dari sekolah baik di dalam maupun di luar kelas.

Murray Print : Kurikum didefinisikan sebagai semua ruang pembelajaran terencana yang diberikan kepada siswa oleh lembaga pendidikan dan pengalaman yang dinikmati oleh siswa saat kurikulum itu terapkan.

Saylor-Oliva: Kurikulum sebagai sesuatu yang diajarkan, sementara instruksi sebagai sarana untuk mengajarkan sesuatu itu. Secara sederhana, kurikulum berarti “apa” yang diajarkan dan pengajaran/instruksi adalah “bagaimana” mengajarakannya.

J.Wiles & J.Bondi (1989) : The curriculum is a goal or a set of values, which are activated through a development for students. The degree to which those experiences are a true representation of the envisioned goal or goals is a direct function of the effectiveness of the curriculum development efforts. (Kurikulum ialah seperangkat nilai-nilai, yang digerakkan melalui suatu pengembangan proses kulminasi dalam pengalaman-pengalaman di kelas untuk murid-murid.

M. Skilbeck (1984) : The learning experiences of students, in so far as they are expressed or anticipated in goals and objectivies, plans and designs for learning and implementation of these plans and design in school environments. (pengalaman-pengalaman murid yang diekspresikan dan diantisipasikan dalam cita-cita dan tujuan-tujuan, rencana-rencana dan desain-desain untuk belajar dan implementasi dari rencana-rencana dan desain-desain tersebut di lingkungan sekolah.

Akta Pendidikan 1996 [Peraturan-peraturan (Kurikulum Kebangsaan) Pendidikan 1997] : “… suatu program pendidikan yang termasuk kurikulum dan kegiatan kokurikulum yang merangkumi semua pengetahuan, kemahiran, norma, nilai, unsure kebudayaan dan kepercayaan untuk membantu perkembangan seseorang murid dengan sepenuhnya dari segi jasmani, rohani, mental dan emosi serta untuk menanam dan mempertingkatkan nilai moral yang diingini dan untuk menyampaikan pengetahuan”

Depertemen Pendidikan Nasional (UNDANG–UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL) : Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Kliebard, 1982 : Kurikulum’ dalam bahasa Latin mempunyai kata akar ‘curere’. Kata ini bermaksud ‘laluan’ atau ‘jejak’. Secara yang lebih luas pula maksudnya ialah ‘jurusan’ seperti dalam rangkai kata jurusan peperangan’. Perkataan’kurikulum’ dalam bahasa Inggris mengandungi pengertian ‘jelmaan’ atau ‘metamorfosis’. Paduan makna kedua-dua bahasa ini menghasilkan makna bahawa perkataan kurikuluin’ ialah ‘laluan dan satu peringkat ke satu peningkat’. Perluasan makna ini memberikan pengertian ‘kurikulum’ dalam perbendaharaan kata pendidikan bahasa Inggeris sebagai jurusan pengajian yang diikuti di sekolah.

Grayson 1997 : Kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (out7 comes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran.Perencanaan tersebut disusun secara terstrukturuntuk suatu bidang studi, sehingga memberikan pedoman dan instruksi untuk mengembangkan strategi pembelajaran (Materi di dalam kurikulum harus diorganisasikan dengan baik agar sasaran (goals) dan tujuan (objectives) pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai.

Harsono, 2005 : Kurikulum merupakan gagasan pendidikan yang diekpresikan dalam praktik. Dalam bahasa latin, kurikulum berarti track atau jalur pacu. Saat ini definisi kurikulum semakin berkembang, sehingga yang dimaksud kurikulum tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk seluruh program pembelajaran yang terencana dari suatu institusi pendidikan.

John Dewey 1902;5 : dalam bukunya ‘The Child and The Curriculum’ kurikulum dapat diartikan sebagai pengajian di sekolah dengan mengambil kira kandungan dari masa lampau hingga masa kini. Pembentukan kurikulum menekankan kepetingn dan keperluan masyarakat.

Frank Bobbit 1918 :dalam buku ‘The Curriculum’ Kurikulum dapat diartikan keseluruhan pengalaman, yang tak terarah dan terarah, terumpu kepada perkembangan kebolehan individu atau satu siri latihan pengalaman langsung secara sedar digunakan oleh sekolah untuk melengkap dan menyempurnakan pendedahannya. Konsep beliau menekankan kepada pemupukan perkembangan individu melalui segala pengalaman termasuk pengalaman yang dirancangkan oleh sekolah.

B. Bara, Ch (2008) : kurikulum adalah suatu teknik/cara yang digunakan dalam penyampaian seluruh isi materi ajar secara urut, terstruktur dan berkesinambungan sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan pembelajaran.

Beane dkk, 1986 : Kurikulum yakni bahwa konsep kurikulum dapat diklasifikasikan ke dalam empat jenis pengertian yang meliputi: (1) kurikulum sebagai produk; (2) kurikulum sebagai program; (3) kurikulum sebagai hasil yang diinginkan: dan (4) kurikulum sebagai pengalaman belajar bagi peserta didik.

J. Gallen Saylor dan William Alexander : Kurikulum adalah segala usaha sekolah untuk mempengaruhi anak itu belajar, apakah dalam ruangan kelas, dihalaman sekolah atau diluar sekolah.

Harold B. Alberty cs : Kurikulum adalah segala kegiatan yang disajikan oleh sekolah bagi para pelajar, tidak ada pembatasan antara kegiatan di dalam kelas dengan di luar kelas.

B. Oythanel Smith, WO Satanley dan J. Harlan Shores : Kurikulum adalah sejumlah pengalaman yang secara potensial dapat diberikan kepada anak, yang diperlukan agar mereka dapat berpikir dan berkelakuan sesuai dengan masyarakatnya.

J. Lloyd Trump dan Delmas F. Miller : Kurikulum iyu lebih luas dari pada hanya bahan pelajaran, juga termasuk metode belajar dan mengajar, cara mengevaluasi kemajuan murid dan seluruh program, perubahan dalam tenaga pengajar, bimbingan dan penyuluhan, supervisi dan administrasi dan hal-hal struktural mengenai waktu, jumlah, ruangan, uang serta kemungkinan adanya pilihan mata pelajaran.

Alice Miel : Kurikulum juga meliputi gedung, suasana sekolah, keingiinan, keyakinan, pengetahuan dan sikap orang-orang yang meladeni dan diladeni sekolah, yakni anak didik, masyarakat, para pendidik dan personalia.

Edward A Krug : Kurikulum terdiri atas cara-cara dan usaha-usaha yang digunakan untuk mencapai tujuan persekolahan.

MEMBANGUN MOTIVASI BELAJAR SISWA

Seiring dengan pergeseran makna pembelajaran, dari pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher oriented) ke pembelajaran yang berorientasi kepada siswa (student oriented), maka peran guru dalam proses pembelajaran pun mengalami pergeseran, salah satunya adalah penguatan peran guru sebagai motivator dan kreator.

Keberadaan seorang guru dalam suatu sekolah tidaklah dapat disangka lagi, karena tanpa guru sekolah tidak akan dapat melaksanakan proses pembelajaran. Namun peran guru tidaklah hanya berhenti sebagai pengajar yang melakukan transfer ilmu saja, karena tanpa adanya peran sebagai motivator maka sia-sialah peran guru sebagai sosok yang melakukan transfer ilmu.
Salah satu indikator keberhasilan pendidikan secara mikro di tataran pembelajaran level kelas adalah tatkala seorang guru mampu membangun motivasi belajar para siswanya. Jika siswa-siswa itu dapat ditumbuhkan motivasi belajarnya, maka sesulit apa pun materi pelajaran atau proses pembelajaran yang diikutinya niscaya mereka akan menjalaninya dengan "enjoy".
Motivasi belajar dapat meningkat apabila guru membangkitkan minat siswa, memelihara rasa ingin tahu mereka, menggunakan berbagai macam strategi pembelajaran, menyatakan harapan dengan jelas, dan memberikan umpan balik (feed back) dengan sering dan segera.

Menumbuhkan motivasi belajar intrinsik sekaligus memberikan motivasi belajar intrinsik pada anak, bisa melalui cara-cara berikut ini :
1. Meluangkan waktu untuk menemani anak belajar.
2. Memberikan penghargaan pada setiap usaha yang dilakukan anak untuk belajar.
3. Memberikan hukuman yang mengandung pelajaran.
4. Mendengarkan keluh kesah anak mengenai kegiatan belajar yang dilakukannya.
5. Memberi perhatian pada hal-hal yang dilakukan anak pada saat ia belajar.
6. Menghargai setiap perkembangan yang berhasil dicapai anak dalam kegiatan belajarnya, sekecil apa pun perkembangan itu.

Hal sejalan juga dikemukakan oleh, Wina Senjaya (2008) dalam bukunya yang berjudul Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Dia mengemukakan bahwa ada tujuh petunjuk umum yang bisa digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, antara lain :
1. Memperjelas tujuan yang ingin dicapai
Tujuan yang jelas dapat membuat siswa paham ke arah mana ia ingin dibawa. Pemahaman siswa tentang tujuan pembelajaran dapat menumbuhkan minat siswa untuk belajar yang pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi belajar mereka.
2. Membangkitkan minat siswa
Siswa akan terdorong untuk belajar manakala mereka memiliki minat untuk belajar. Oleh sebab itu, mengembangkan minat belajar siswa merupakan salah satu teknik dalam mengembangkan motivasi belajar, dengan cara hubungkan bahan pelajaran yang akan diajarkan dengan kebutuhan siswa (berkaitan dengan life skill).
3. Ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar
Siswa hanya mungkin dapat belajar dengan baik manakala ada dalam suasana yang menyenangkan, merasa aman, bebas dari rasa takut.
4. Berilah pujian yang wajar terhadap setiap keberhasilan siswa
Motivasi akan tumbuh manakala siswa merasa dihargai. Memberikan pujian yang wajar merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memberikan penghargaan.
5. Berikan penilaian
Bagi sebagian siswa nilai dapat menjadi motivasi yang kuat untuk belajar. Oleh karena itu, penilaian harus dilakukan dengan segera agar siswa secepat mungkin mengetahui hasil kerjanya.
6. Berilah komentar terhadap hasil pekerjaan siswa
Komentar yang positif dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
7. Ciptakan persaingan dan kerja sama
Guru harus mendesain pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk bersaing baik antara kelompok maupun antarindividu. Melalui persaingan siswa dimungkinkan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh hasil yang terbaik.

Jadi kesimpulannya apabila guru bisa menjadi motivator yang baik bagi siswanya, maka akan timbul berbagai hal dalam diri siswa, antara lain :
1. Timbulnya keinginan pada siswa untuk lebih menekuni materi yang dipelajarinya.
2. Adanya keinginan yang kuat dalam diri siswa untuk pergi ke sekolah.
3. Rasa memiliki sekolah akan timbul bila siswa merasa bahwa sekolahnya adalah suatu tempat yang menyenangkan.